Pages

Subscribe:

Ads 488x100px

PENDIDIKAN TANPA BATAS

Sabtu, 19 November 2011

tugas BK

BAB I
PENDAHULUAN


1.1   Latar Belakang Penugasan
Mata kuliah Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada mahasiswa merupakan salah satu mata kuliah umum jurusan kependidikan Universitas Negeri Semarang, yang pada  nantinya sebagai guru demgan tugas utamanya adalah mengajar sekaligus mendidik Sebagai calon guru hendaknya bisa mengenal dan memahami seluruh aspek kepribadian serta tingkat perkembangan peserta didiknya. Selain itu, mata kuliah ini diharapkan bisa membentuk kepribadian para calon pendidik agar terbiasa menangani siswa – siswa yang mempunyai beranekaragaman karakteristiknya. Guna mewujudkan hal tersebut sebagai calon  guru diharapkan dapat menguasai bimbingan dan konseling.
Setiap mata kuliah yang diberikan kepada mahasiswa selalu memiliki tujuan atau harapan untuk memajukan mahasiswa. Didalam pemberian tugas tidak hanya sekedar presentasi saja, tetapi mahasiswa bisa langsung terjun kelapangan guna melihat kondisi yang ada sebenarnya untuk menerapkan teori – teori yang telah diajarkan selama di dalam kelas. Pemberian tugas tersebut duharapkan para mahasiswa bisa menjadi kreatif, inovatif, dan berkembang sesuai tuntunan zaman.
Dengan adanya bimbingan dan konseling di sekolah diharapkan jika ada masalah-masalah pada diri peserta didik, sekolah tersebut bisa menyelesaikannya. Semua elemen-elemen yang ada pada sekolah diharapkan bisa bekerja sama dalam hal ini khususnya guru bidang studi dan guru bimbingan konseling (konselor). Setelah adanya program bimbingan konseling ini, diharapkan dapat membantu setiap masalah pada diri siswa dan memperlancar proses ( KTSP ) kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang ada di sekolah.
Bimbingan dalam pelaksanaannya dan konseling mempunyai beberapa pelayanan yang diberikan kepada siswa. Seperti, layanan orientasi yang ditujukan kepada siswa baru dan pihak – pihak lain guna memberikan pemahaman dan penyesuaian diri tehadap lingkungan yang mempunyai fungsi utamanya adalah fungsi pemahaman dan pencegahan. Membekali individu dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal diri, merencanakan dan mengembangkan pola kehidupan sebagai pelajar, sebagai anggota keluarga dan masyarakat sebagai layanan informasi. Selain itu, ada layanna penempatan / penyaluran untuk menyalurkan kemampyan, bakat dan minat siswa agar dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuannya. Layanan pembelajaran memungkinkan siswa memahami dan megembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, keterampilan dan materi yang cocok dan cepat untuk memhami apa yang disampaikan dengan menngunakan fungsi pemeliharaan dan pengembangan. Dengan berjalannya pelayanan BK secara baik maka diharapkan permasalahan siswa dapat dibantu dan dapat mengentaskannya sserta membuat siswa menjadi lebih dewasa dalam memandang suatu permasalahan.

1.2  Profil Sekolah
  1. Nama Sekolah                         : SMA NEGERI 2 UNGARAN
  2. Alamat                                                : Jalan Diponegoro no.227
Desa / Kecamatan                   : Candirejo / Ungaran
Kab / Kota                              : Semarang
No Telp. / HP                          : (024) 6922207
  1. Nama Yayasan (bagi swasta)  : -
Alamat                                                : -
  1. NSS /NSM / NDS                   :
  2. Tahun didirikan                       : 1984
  3. Tahun Beroperasi                    : 1985
  4. Kepemilikan Tanah (swasta)   :          
a. Status Tanah                        :
b. Luas Tanah                          :  28.850 m2
  1. Status bangunan                     : -
a. Surat Ijin Bangunan                        : -
b. Luas Seluruh bangunan       : -
  1. Data Siswa dalam tahun 2009
Th. Ajaran
Kelas X
Kelas XI
Kelas XII
Jumlah
(Kls. X+XI+XII)
Jml Siswa
Jml Kelas
Jml Siswa
Jml Kelas
Jml Siswa
Jml Kelas
Siswa
Jml Kelas
Th. 2008/2009
324
9
288
8
288
8
900
25

  1. a).        Data Ruang Kelas                               b)         Data Kondisi Ruang

Jumlah
Ruang


Jumlah
Ruang
Jml Ruang
yg Kondisinya Baik
Jml Ruang yg Kondisinya Rusak
Kategori Kerusakan
(a)        Ruang Kelas (asli)
25 kelas
Ruang Kelas




(b) Ruang Lainnya yang digunakan sebagai Ruang Kelas yaitu ruang :
-       Ruang Ketrampilan
-       Ruang Perpustakaan


-

-
Perpustakaan
1
-


R. Lab. IPA
1



Keterampilan




Jml Ruang Kelas seluruhnya (a + b)


Lab. Bahasa
1
-



Lab. Komputer
2




  1. Data Guru dan TU:
Guru / staf
Jumlah
Keterangan
Guru Mapel
47 org

Guru BK
5 org

Staf dan TU
17 org
2 Petugas perpus,
3 Satpam,
Visi Dan Misi SMA Negeri 2 Ungaran

VISI
TERWUJUDNYA WARGA SEKOLAH YANG BERTAQWA, BERBUDAYA DAN BERPRESTASI

MISI
  • Melaksanakan tata tertib dengan konsisten
  • Menumbuhkan semangat berkompetisi dan berprestasi
  • Menyediakan wadah kegiatan kreativitas siswa
  • Meningkatkan prosentase masuk PTN
  • Meningkatkan profesionalitas guru, laboran, pustakawan dan tenaga administrasi
  • Pengembangan model pembelajaran yang Inovative dan menyenangkan bagi siswa dan guru

Fasilitas SMA
  • Masjid
  • 25 Ruang Kelas
  • Koperasi Siswa
  • Laboratorium IPA
  • Laboratorium Komputer dan Multimedia
  • Laboratorium Bahasa dan Multimedia
  • Perpustakaan
  • Gedung MGMP
  • Kafetaria
  • Ruang BK
  • Ruang Kepala Sekolah
  • Ruang Wakil Kepala Sekolah
  • Ruang OSIS
  • Ruang TU
  • Pendopo
  • Lapangan Olahraga
  • dll
KETUA KOMITE                                          : H. Abdul Aziz
KEPALA SEKOLAH                                    : Dra. Jadmi Rahayu, M.M
KOORDINATOR ADMINISTRASI           : Drs. Edi Nursetyo
WAKA KURIKULUM                                 : Drs. Ign. Yuli Setyanto
WAKA KESISWAAN                                  : Drs. Basuki, MR
WAKA HUMAS                                            : Dra. Yulia S, MPd
WAKA SARPRAS                                        : Dra. Eni Kurniawati
BP / BK                                                          : Dra. Winggar Reniwati
Wilies Muis, S.Pd
Nining D, S.Psi
Sri Ningsih S.Pd
Alif Budiono, M.Pd

1.3  Rumusan Masalah
Bagaimana pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di SMA N 2 Ungaran?









BAB II
TEMUAN DI LAPANGAN

Setelah melakukan pengamatan selama kurang lebih satu bulan. Berikut ini adalah hasil temuan observasi pelaksanaan bimbingan dan konseling di SMA N 2 Ungaran. Hasil observasi mengenai bimbingan dan konseling diperoleh dengan berbagai cara seperti penyebaran angket kepada siswa, wawancara dan pengamatan. Di sekolah ini terdapat 25 kelas yang terdiri dari 9 kelas X, 8 kelas XI, dan 8 kelas XII, serta memiliki 3 penjurusan yaitu IPA, IPS, dan Bahasa.  Sehingga timbul suatu pertanyaan adakah kaitannya setiap penunjang kegiatan belajar mengajar dengan pelaksanaan BK. Dengan demikian diperoleh sebagai berikut :

A.  Kepala Sekolah
Dalam bimbingan dan konseling di SMA N 2 Ungaran, kepala sekolah berperan menjadi penanggung jawab dalam pelaksanaan seluruh kegiatan belajar. Kepala sekolah juga berperan dalam layanan Bimbingan dan Konseling khususnya dalam penyediaan sarana dan prasana penunjang kegiatan BK. Kepala sekolah berperan sebagai media penghubung antara sekolah dan lembaga pendidikan masyarakat dalam hal Bimbingan dan Konseling yaitu berkaitan dengan upaya sekolah untuk menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu pelayanan bimbingan. Mengadakan kerjasama dengan instasi lain yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Menetapkan koordinator guru pembimbing yang bertanggung jawab atas koordinasi pelaksanaan BK di sekolah berdasar kesepakatan bersama  dengan guru BK yang lainnya. Melakukan supervisi terhadap pelaksanaan BK di sekolah. Kepala sekolah bertindak sebagai penanggung jawab juga dalam konferensi kasus yaitu kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik itu. Pertemuan konferensi kasus ini bersifat terbatas dan tertutup. Kepala sekolah sebagai penanggung jawab utama dalam permasalahan yang dihadapi siswa dan merupakan tempat terakhir untuk mencari solusi dalam suatu permasalahan. Pelaksanaan bimbingan konseling dan juga bimbingan konseling itu sendiri diadakan evaluasi untuk mengetahui bagaimana keadaan BK. Di dalam analisis hasil pelaksanaan bimbingan konseling, kepala sekolah juga berperan aktif di dalamnya kemudian juga ikut serta dalam penindaklanjutan masalah yang ditangani oleh BK.
B.  Wakil Kepala Sekolah
Wakil kepala sekolah biasanya membantu kepala sekolah untuk mengkoorndinir pelaksanaan BK kepada seluruh personil sekolah. Perannya kurang berpengaruh banyak terhadap BK, tetapi wakil kepala sekolah berperan aktif dalam alih tangan kasus. Wakil kepala sekolah melakukan kebijakan ketika kepala sekolah tidak berada ditempat padahal dalam keadaan darurat. Selain itu, saat meminta izin akan mengadakan kegiatan melewati waki kepala sekolah jika kepala sekolah tidak ditempat. Apabila konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani masalah konseling, maka sebaiknya dia mengalihtangankan konseling kepada pihak lain dalam hal ini wakil kepala sekolah. Didalam SMA N 2 Ungaran memiliki beberapa wakil kepala sekolah dalam berbagai bidang. Diantaranya, waka kesiswaan yang menangani masalah siswa, waka kurikulum yang menangani mengenai kurikulum yang dijalankan di sekolahan, waka humas yang mengurusi tentang hubungan dengan masyarakat serta waka sapras, waka – waka tersebut saling terkait dengan siswa dan berjalannya proses belajar mengajar di sekolah.

C.  Koordinator BK
Koordinator BK dalam hal ini adalah ketua BK di sekolah. Koordinator ini mempunyai tugas untuk mengkoordinir para guru BK dalam pemberian mata pelajaran, menginformasikan BK terhadap warga masyarakat sekolah. Memimpin dalam rapat penyusunan program BK dan evaluasi BK di sekolah. Dalam penyusunan program koordinator BK dibantu oleh staf dan guru BK. Seorang koordinator selalu bekerjasama dengan kepala sekolah, guru mapel, wali kelas, orang tua dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan BK. Seperti saat – saat ini koordinator BK sangat berperan terutama bagi siswa kelas XII yang sebentar lagi menghadapi ujian dan memutuskan kelanjutan masa depan mereka. Koordinator BK memberikan informasi mengenai bimbingan karir, memberi motivasi kepada siswa dan biasanya BK bekerja sama dengan suatu lembaga untuk mengadakan acara agar semangat para siwa kelas XII menghadapi ujian tetap stabil dengan membuat acara yang dinamakan “quantum learning”. Kegiatan ini ditujukan agar siswa termotivasi belajar untuk mendapatkan nilai sebaik – baik mungkin.

D.  Staf BK atau guru BK
Guru BK di SMA N 2 Ungaran ada 5 orang guru BK. Setiap guru memperoleh beban untuk mengampuh kurang lebih 5 kelas. Secara idealisme jumlah guru BK yang ada tidak sesuai dengan banyak siswa yang mempunyai berbagi kebutuhan yang berbeda pula. BK memiliki ruangan  tersendiri untuk melakukan bimbingan dan sudah dilengkapi beberapa fasilitas diantaranya :
a.       Komputer
b.      Loker, digunakan untuk menaruh buku data pribadi siswa
c.       Ruang untuk melakukan Bimbingan dan Konseling serta menerima tamu wali murid
d.      Serta ada ruang UKS
e.       Terdapat kerangka kerja BK, pola 17 plus, data perkembangan siswa, dan sebagainya.
f.        
 BK sudah masuk dalam kurikulum di sekolah dan terdapat satu jam khusus BK setiap minggunya di setiap kelas. Setiap guru BK memiki cara tersendiri untuk menangani kelas yang diampunya dan agar suasana pembelajaran BK lebih mengasyikan. Seperti yang dilakukan oleh salah satu guru BK, mengenai penanganan nilai siswa di kelas. Guru tersebut membuat kelompok belajar dengan memerankan suatu peran yaitu dokter – pasien. Cara tersebut diharapkan lebih cepat membantu permasalahn siswa dalam nilai pelajaran. Yang menjadi dokter adalah siswa yang memiliki nilai tertinngi di kelas tersebut, dan dokter dibantu oleh perawat – perawat yang merupakan nilainya dbawah dokter, sedangkan yang menjadi pasien adalah siswa yang memiki nilai rendah, jika masih mengalami kesulitan akan dibantu oleh tenaga medis yaitu guru. Cara ini dianggap lebih efisien untuk membuat siswa menguasai pelajaran dan semakin mempererat hubungan antar siswa. Serta, para siswa akn lebih kompetensi bersaing dengan teman secara sehat dan saling membantu. Dalam melaksanakan tugasnya guru BK berperan dalam segala bimbingan, bimbingan tersebut meliputi bimbingan pribadi yang dilakukan saat anak mengalami keluhan terhadap permasalahn yang dihadapi dan BK membantu memecahkan masalahnya.
BK sudah melaksanakan berbagai bidang bimbingan secara baik, diantaranya bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karir. Dalam bimbingan pribadi pelayanan bimbingan dan konseling membantu siswa mengenal dan mengembangkan pribadi yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mantap, mandiri serta sehat jasmani dan rohani. Bidang bimbingan sosial pelayanan bimbingan dan konseling membantu siswa mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosialnya yang dilandasi budi pengerti luhur, tanggung jawab kemasyarakatan, dan kenegaraan.
Bidang bimbingan dan konseling belajar pelayanan bimbingan dan konseling membantu siswa mengembangkan diri sikap dan  kebiasaan belajar yang baik untuk menguasai pemgetahuan dan ketrampilan serta menyiapkannya melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi. Bidang bimbingan berkaitan erat dengan bidang bimbingan dan konseling untuk merencanakan dan mengembangkan masa depan karir.
Bimbingan dan konseling memberikan berbagai layanan kepada siswa guna membantu menangani permasalahan siswa. Diantaranya layanan orientasi yang ditujukan kepada siswa baru dan pihak – pihak lain guna memberikan pemahaman dan penyesuaian diri tehadap lingkungan yang mempunyai fungsi utamanya adalah fungsi pemahaman dan pencegahan. Sebagai contoh layanan orientasi adalah saat penerimaan siswa baru BK memberikan informasi mengenai suasana sekolah, lingkungan belajar, tata tertib dan tugas BK sebagai tempat memberikan bantuan kepada siswa atas permasalahannya.
Membekali individu dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal diri, merencanakan dan mengembangkan pola kehidupan sebagai pelajar, sebagai anggota keluarga dan masyarakat sebagai layanan informasi. Pada layanan ini BK diharap memberi informasi tentang dunia luar yang hasilny aakan bermanfaat untuk siswa. Seperti informasi, bahaya miuman keras, rokok, penggunaan narkoba (obat - obatan), free sex dan dunia luar yang mengharuskan siswa bisa menghadapi tantangan zaman.
 Selain itu, ada layanan penempatan / penyaluran untuk menyalurkan kemampuan, bakat dan minat siswa agar dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuannya. Pada saat menentukan jurusan BK berperan penting karena BK mengetahui sejauh mana kemampuan siswa tersebut, serta melakuakan beberapa rangakaian untuk menentukan jurusan, diantaranya:
1.      Melalui hasil tes bakat dan minat siswa
2.      Penyebaran angket penjurusan
3.      Dari kemampuan akademik siswa
4.      Persetujuan wali kelas
Layanan pembelajaran memungkinkan siswa memahami dan megembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, keterampilan dan materi yang cocok dan cepat untuk memahami apa yang disampaikan dengan menngunakan fungsi pemeliharaan dan pengembangan. Guru BK membentuk kelompok belajar untuk siswa untuk membantu siswa dalam mengerjakan tugas – tugas bersama.
Selain itu, BK juga mengadakan pelayanan konseling perorangan dan Bimbingan kelompok. Tujuan dari layanan konseling perorangan adalah memungkinkan siswa mendapatkan pelayanan secara langsung, tatap muka dengan konselor sekolah dalamrangka pengentaan masalah permasalahan individu tersebut dan jalan keluat mengambil keputusan untuk penyelesaian. Pada layanan Bimbingan kelompok siswa diharapkan dapat aktif ikut memberikan pendapat pada suatu permasalahan tertentu. Seperti diadakannya kelompok saat memberian tugas dan mereka akan saling mengemukakan pendapatnya. Layanan yang dilaksanakan BK didukung dengan pihak – pihak lainnya dan saling membantu satu sama lainnya.

E.   Wali Kelas
Wali kelas berkolaborasi dengan BK dalam hal mengangani siswa karena wali kelas menjadi pengganti orang tua siswa di sekolah. Wali kelas membantu BK melaksanakan layanan yang menjadi tanggung jawabnya. Memberikan informasi kepada siswa mengenai BK dan layanan apa yang dapat diperoleh dari BK. Membantu memberikan informasi kepada guru mata pelajaran tentang siswa yang perlu diperhatikan khusus pada satu mata pelajaran tertentu. Wali kelas mempunyai waktu untuk mengadakan perwalian seminggu sekali. Dalam perwalian tersebut wali kelas dan siswa saling bertukar pikiran mengenai berbagai masalah di dalam kelas ataupun tentang pelajaran dan bersama – sama menyelesikannya. Jika masalah siswa tersebut sulit unuk diselesaikan maka wali kelas meminta bantuan pada BK. Wali kelas sebagai informator, fasilitator, mediator, dan motivator untuk siswa dalam suatu kelas.

F.   Guru Bidang Studi
Konselor berkolaborasi dengan guru bidang studi dalam rangka memperoleh informasi tentang peserta didik (seperti prestasi belajar, kehadiran dan pribadinya), membantu memecahkan masalah siswa dan mengidentifikasi aspek-aspek bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran. Aspek-aspek tersebut antara lain menciptakan iklim sosio-emosional kelas yang kondusif bagi peserta didik, memahami karakteristik peserta didik yang unik dan beragam, menandai peserta didik yang diduga bermasalah, mengalihtangankan peserta didik yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing, memberikan info yang up to date tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang kerja yang diminati peserta didik serta memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran yang diberikannya secara efektif. Guru mata pelajaran akan memberi remidian kepada siswa yang nilainya belum memenuhi standar hingga nilai tersebut memenuhi standar. Dalam hal ini biasanya berkaitan dengan nilai yang diperoleh siswa dan dilaporkan kepada BK untuk dilihat perkembangan nilainya. Mata pelajaran sosiologi merupakan salah satu yang termasuk dalam UAN sehingga guru memberi les tambahan yang dilakukan setiap satu minggu sekali. Namun, dalam mata pelajaran sosiologi ini siswa tidak begitu mengalami kesulitan karena mata pelajaran ini mata pelajaran yang mudah dipahami siswa jika mereka mau belajar.

G.  Siswa
Dalam hal bimbingan dan konseling, siswa berperan sebagai klien. Yaitu sebagai objek yang memperoleh bimbingan dari konselor. Banyak siswa yang masih beranggapan bahwa BK tempatnya orang – orang nakal, bermasalah dan menjadi momok siswa karena adanya pelabelan yang telah melekat untuk BK. Jika mereka mempunyai masalah mereka cenderung senang bercerita kepada teman.
Tapi ada sebagian siswa saat ini mulai beranggap guru BK menjadi teman curhat dan juga sahabat yang bisa membantu mereka memecahkan suatu masalah yang sedang mereka hadapi. Siswa sudah mulai berani pergi ke BK karena BK mulai mensosialisasikam kembali tentang peranan BK yabg tidak hanya sebagi polisi sekolah dengan cara pendekatan personal antara guru dengan siswa. Biasanya jika ada seorang siswa yang nyaman setelah ke BK maka akan ada berita mulut - kemulut tentang BK maka siswa akan mulai menghilangkan yang pemikiran negative tentang Bimbingan dan konseling.
Siswa yang bersekolah di SMA N 2 Ungaran sebagian besar jarak rumah mereka jauh, dengan begitu timbul permasalahan yang sering terjadi yaitu terlambat masuk sekolah. Saat siswa terlambat siswa mempunyai 5X kesempatan terlambat, jika sudah lebih dari itu Bimbingan dan konseling akan memberi surat peringatan dan memanggil orang tua dan mencari tahu alasan siswa terlambat. Selain terlambat permasalahan lainnya adalah siswa yang membolos, pakaian yang tidak sesuai dengan peraturan, melanggar tata tertib. Maka Bimbingan dan konseling akan menangani siswa dengan tata tertib yang ada.
Masalah lainnya yang muncul saat penyaluran/ penempatan jurusan saat ada orang tua siswa yang memaksakan kehendak anaknya untuk masuk pada jurusan yang tidak sesuai dengan, kemampuan siswa, bakat dan minatnya. Maka orang tua dapat mengkonfirmasi hal tersebut kepada guru pembimbing dengan syarat dan membuat surat pernyataan atau perjanjian yang berisi pernyataan bersedia pindah jurusan dan siap menanggung segala konsekuensi yang apabila timbul jika anak tersebut mengalami kesulitan pemahaman materi dan suatu saat nilai anak tersebut tidak sesuai yang diharapkan.
Bimbingan dan konseling melakukan pelayanan – pelayanan yang dibutuhkan siswa sesusi dengan asas- asas yang ada dalam Bimbingan dan konseling. Seperti, jika ada siswa yang melakukan Bimbingan individu maka BK menggunakan asas – asas dan prinsip yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang diharapkan Bimbingan dan konseling.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

Pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal telah dipetakan secara tepat dalam kurikulum 1975, meskipun ketika itu masih dinamakan layanan bimbingan dan penyuluhan pendidikan, dan layanan di bidang pembelajaran yang dibingkai dalam kurikulum, sebagaimana tampak pada gambar 1.
Gambar 1
Wilayah Pelayanan Bimbingan dan Konseling
Dalam Jalur Pendidikan Formal

Akan tetapi, dalam Permen Diknas No. 22/2006 tentang Standar isi, pelayanan bimbingan dan konseling diletakkan sebagai bagian dari kurikulum yang isinya dipilah menjadi (a) kelompok mata pelajaran, (b) muatan lokal, dan (c) materi pengembangan diri, yang harus “disiapkan“ oleh konselor kepada peserta didik sebagaimana dapat dilukiskan seperti Gambar 2
Gambar 2
Kerancuan Wilayah Layanan Konselor dengan
Wilayah Layanan Guru dalam KTSP
Penanganan pengembangan diri lebih banyak terkait dengan wilayah layanan guru, khususnya melalui pengacaraan berbagai dampak pengiring (nurturant effects) yang relevan, yang dapat dan oleh karena itu perlu, dirajutkan ke dalam pembelajaran yang mendidik yang menggunakan mata pelajaran sebagai konteks layanan. Meskipun demikian, konselor memang juga diharapkan untuk berperan serta dalam bingkai layanan yang komplementer dengan layanan guru, bahu membahu dengan guru termasuk dalam pengelolaan kegiatan ekstra kurikuler. Persamaan, keunikan, dan keterkaitan antara wilayah layanan, konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor dapat digambarkan seperti tampak pada gambar 3, dimana materi pengembangan diri berada dan merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor.
Gambar 3
Keunikan Komplementalitas Wilayah Pelayanan
Guru dan Konselor

3.1  PENGERTIAN BIMBINGAN
Istilah Bimbingan dan Konseling merupakan terjemahan dari bahasa inggris “ Guidance and Counseling “. Sesuai istilah secara umum bimbingan diartikan sebagi bantuan. Pengertian bimbingan dirumuskan oleh para ahli diantaranya :
Definisi dari Year Book of Education (1995) adalah sebagai berikut
” Guidance is process of helping individual through their own efforts to discover and develop their potentialities both for personal happiness and social usefulness “. Atau bimbingan suatu proses membantu individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan bermanfaat sosial.
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang baik pria maupum wanita, yang telah terlatih dengan baik dan memiliki kepribadiaan dan pendididkan yang memadai kepada seseorang, dari semua usia untuk membantunya mengatur kegiatan, keputusan sendiri, dan menanggung bebannya sendiri. ( Crow and Crow, dalam E.Amti 1992:2).
(Mortensen and Scmuller, dalam Prayitno dan E.Amti, 1994: 94) bimbingan dapat diartikan ebagai bagian dari keseluruhan pendidikan yang membantu menyediaan kesempatan – kesempatan layanan pribadi dan staf ahli dengan cara mana, setiap individu dapat mengembangkan kemampuan – kemampuan dan kesanggupannya sepenuh – penuhnya sesuai dengan ide – ide demokrasi.
Pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh Stoops dan Walquist (1995) ialah bahwa :
Bimbingan adalah suatu proses yang terus menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuannya secara maksimal dalam mengarahkan manfaat yang sebesar – besarnya baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat.
Bimbingan ialah penolong individu agar dapat mengenal dirinya dan supaya individu itu dapat mengenal serta dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi di dalam kehidupannya (Oemar Hamalik, 2000:193).
Shertzer dan Stones (1981 : 40 ) menyebutkan bahwa sebagai suatu konsep. Bimbingan merupakan suatu upaya membantu individu, sebagai suatu konstruk pendidikan, bimbingan mengacu kepada suatu bentuk pengalaman yang dapat memebantu siswa untuk memahami dirinya sendiri dan sebagai suatu program, bimbingan mengacu kepada suatu prosedur dan proses yang terorganisasi untuk mencapai tujuan pendidikan dan pribadi tertentu.
Dengan membandingkan beberapa definisi bimbingan dapat ditarik kesimpulan mengenai pengertian bimbingan yaitu :
Pertama, bimbingan meruopakan suatu proses yang berkelanjutan. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis, berencana terus – menerus dan terarah kepada tujuan. Senantiasa diikuti secara terus – menerus dan aktif sampai sejauh mana individu telah berhasil mencapai tujuan dan menyesuaikan diri.
Kedua, bahwa bimbingan merupakan proses membantu individu. Dalam perkataan ”membantu” bukan suatu paksaan. Bimbingan membantu mengarahkan individu kearah suatu tujuan yang sesuai dengan potensinya secara optimal dam mampu mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya sesuai kapasitas yang dapat ia kuasai.
Ketiga, bahwa bantuan yang diberikan ialah kepada setiap individu yang memerlukannya didalam proses perkembangannya. Sehingga, bimbingan memberikan bantuannya dari anak – anak hingga orang dewasa dalam pendidika formal maupun luar sekolah.
Keempat, bantuan dalam bimbingan diberikan kepada individu baik perorangan mauoun kelompok. Jadi, sasarannya adalah orang – orang yang memang diberi bantuan baik secara individu maupun kelompok.
Kelima, yang menjadi tujua bimbingan ialah agar individu dapat berkembang secara optimal sesuai lingkungannya dan menjadi kepribadian yang mandiri. Dengan tercapainya kemandirian tersebut maka individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Keenam, untuk mencapai tujuan bimbingan digunakan pendekatan pribadi. Pendekatan pribadi yang dimaksud adalah pendekatan yang bertitik tolak pada pandangan siswa sebagai pribadi yang unik dengan segala ciri dan karakteristiknya.
Ketujuh, dalam melaksanakan usaha tersebut dibutuhkan orang – orang yang ahli. Yaitu orang – orang yang memiliki keahlian dan pengalaman khusus dalam bidang bimbingan. Orang tetsebut harus memenuhi beberapa syarat dan kualitas tertentu.
Kedelapan, bimbingan hendaknya dilaksanakan sesuai dengan norma – norma yang ada dalam masyarakat. Hal ini berarti upaya bimbingan, baik bentuk, isi maupun tujuan tidak bertentangan dengan norma yang ada dimasyarakat.
Kemandirian yang menjadi tujuan usaha bimbingan ini mencakup lima fungsi pokok yang hendaknya dijalankanoleh pribadi yang mandiri, yaitu
·         Mengenal diri sendiri dan lingkungannya sebagaimana mestinya. Meliputi, kemampuan pengenalan terhadap keadaan potensi, kecenderungan, kekuatan dan kelemahan pada diri sendiri dan mengenali lingkungan hidup sehari – hari.
·         Menerima diri sendiri dan lingkungannya secara positif dan dinamik. Sikap menerima secara positif dan dinamik perlu didahului oleh pengenalan diri dan lingkungan .
·         Mengambil keputusan , menujukkan kemampuan individu untuk menetapkan satu pilihan dari berbagai kemungkinan yang ada berdasarkan pertimbangan yang matang.
·         Mengarahkan diri sendiri, menuntut kemampuan individu untuk mencari dan menempuh jalan agar apa yang menjadi kepentingan dirinya dapat terselenggarakan secara positif dan dinamik.
·         Mewujudkan diri sendiri merupakan kebulatan dan kemantapan dari perwujudan keseluruhan fungsi tersebut diatas .
Dalam pelayanaan bimbingan ini seorang pembimbing harus memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi pada klien sehingga mudah untuk memantapkan pribadi mereka. Pembimbing selayaknya tidak memeksakan keinginan kepada klien, karena klien mempunyai hak dan kewajiban untuk menentukan sendiri pilihannya.(Ermis Suryana. 2005:2).

3.2  PENGERTIAN KONSELING
Istilah konseling berasal dari bahasa latin, yaitu ”Consilius” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai denagn kata “menerima” atau “memahami”. Sebagaiman dengan istilah bimbingan, istilah konseling juga telah didefinisikan oleh banyak ahli.
Konseling merupakan inti kegiatan bimbingan secara keseluruhan dan lebih berkenaan dengan masalah individu secara pribadi. Mortensen (1964 : 301) mengatakan bahwa, “Guidance is the heart of the guidance program”. Dan Ruth Strang menyatakan bahwa, “Guidance is broader : Conseling is a most important tool of guindance “(Ruth Strang, 1958). Jadi, konseling merupakan inti dan alat yang paling penting dalam bimbingan.
Menurut Bernard dan Fullmer (dalam Prayitno dan E.Amti, 1994 : 101) konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan – kebutuhan, motivasi, dan potensi – potensi yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasi ketiga hal tersebut.
Jones (1970 : 96) menyebutkan bahwa konseling sebagai suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien. Selanjutnya, dikatakan bahwa hubungan ini biasanya bersifat individual atau seorang – seorang, meskipun kadang – kadang melibatkan dua orang atau lebih dan dirancang untuk membantu klien, memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya sehingga dapat membuat pilihan yang berarti dan memadai bagi dirinya.
MenurutDivisonof Conseling Psycology (Prayitno, 1994 : 1001) konseling diartikan sebagai suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan – hambatan perkembangan dirinya, dan untuk mencapai perkembangan optimal, kemampuan pribadi yang dimilikinya, dimana proses tersebut terjadi setiap waktu.
Suatu pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kapadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya secara lebih efektif dengan dirinya sendiri dan lingkungan. (Mc. Daniel,1956).
Hal – hal pokok yang terkandung dalam rumusan pengertian konseling sebagai berikut :
1.      Konseling melibatkan dua orang yang saling berinteraksi dengan jalan mengadakan komunikasi secara langsung, gerakan – gerakan isyarat dan lain – lain.
2.      Interaksi antar klien dan konselor berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan terarah tercapai tujuan.
3.      Tujuan dari hubungan konseling adalah terjadinya perubahan pada tingkah laku klien.
4.      Model interaksi didalam konseling terbatas pada dimensi verbal, yaitu konselor dan klien saling berbicara.
5.      Konseling merupakan proses yang dinamis, artinya individu klien dibantu untuk dapat mengembangkan dirinya, mengembangkan kemampuan untuk mengatasi masalah yang dihadapi.
6.      Konseling didasarkan atas penerimaan – penerimaan konselor secara wajar tentang diri klien, yaitu dasar penghargaan terhadap harkat dan martabat klien.
Karekteristik hubungan dalam konseling menurut Shostrom dan Brammer (1960 : 145 – 146) ditandai dengan :
·         Adanya keunikan dan keumuman
·         Keseimbangan obyektivitas dan subyektivitas
·         Keseimbangan kognitif dan konitif
·         Keseimbangan kesamar – samaran dan kejelasan
·         Keseimbangan tanggung jawab
Jadi konseling adalah Proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara Konseling oleh seorang ahli (disebut Konselor) kepada individu yang sedang mengalami masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dialami oleh klien.

3.3  TUJUAN KONSELING
Berdasarkan penanganan oleh konselor dikemukakan oleh Shertzer dan Stone yang dikutip oleh Mc Leod (2004) dapat diperinci sebagai berikut:

  • Mencapai kesehatan mental yang positif
Apabila kesehatan mental tercapai maka individu memiliki integrasi, penyesuaian, dan identifikasi positif terhadap orang lain. Individu belajar menerima tanggung jawab, menjadi mandiri, dan mencapai integrasi tingkah laku.
·         Keefektifan individu
Seseorang diharapkan mempunyai pribadi yang dapat menyelaraskan diri dengan cita-cita, memanfaatkan waktu dan tenaga serta bersedia mengambil tanggung jawab ekonomi, psikologis, dan fisik.
·         Pembuatan keputusan
 Konseling membantu individu mengkaji apa yang perlu dipilih, belajar membuat alternatif-alternatif pilihan, dan selanjutnya menentukan pilihan sehingga pada masa depan dapat membuat keputusan secara mandiri.
·         Perubahan tingkah laku
Konseling diharapkan dapat merubah tingkah laku seseorang menjadi lebih baik sesuai harapan yang dikehendaki.

3.4  LATAR BELAKANG PERLUNYA BIMBINGAN DAN KONSELING
  1. Latar Belakang Pikologis
Siswa sebagai individu yang dinamis dan selalu mengalami perkembangan, memiliki kebutuhan akan interaksi dengan masyarakat cukup tinggi. Siswa juga mempunyai kepribadian yang unik dan beragam karakteristik. Dengan demikian perlu ada bimbingan kondeling disekolah guna membantu siswa dalam pemecahan – pemecahan masalah. Seperti, masalah perkembangan individu, perbedaan individu, kebutuhan individu, penyesuaian diri,dan masalah belajar. Masalah – masalah tersebut sering dihadapi oleh siswa sehingga BK berkewajiban membantu dalam mengatasinya.
  1. Latar Belakang Sosial Budaya
Adanya perubahan – perubahan sosial dalam masyaraka yang cukup pesat membuat siswa juga mengalami perubahan. Perubahan tersebut dapat berdampak negatif, dan sangat berpengaruh pada remaja. Denagn adanya BK di sekolah diharapkan bisa menyiapkan siswa agar berhasil menyesuaikan diri dan dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.

  1. Latar Belakang Paedadogis
Dalam hal ini bimbingan mempunyai peran untuk membantu setiap pribadi anak agar berkembang secara optimal. Bimbingan dapat membantu dalam perkembangan pendidikan, dan adanya peranan guru yang ikut serta dalam membangun pendidikan.
Karekteristik konselor dapat dilihat meliputi :
a.       Sikap
b.      Ras, jenis kelami, dan umur,
c.       Pengalaman
d.      Transparency
e.       Aktivitas konselor
f.       Motivasi dan harapan ingin berubah
g.      Persamaan konselor dan konseli
h.      Persepsi
i.        Kecemasan
j.        Komunikasi
k.      Konsep diri
l.        Kebutuhan dan nilai – nilai
Fiedler, Seeman, Parloff dan Rogers menyatakan bahwa efektivitas konseling berhubungan erat dengan tipe hubungan yang dibangun oleh konselor dalam suatu konseling, konselor yang ahli akan mampu untuk (a) berkomunikasi dan memahami klien, (b) menjaga jarak emosi dengan klien, (c) memahami statusnya sebagai konselor, tetapi dapat menjaga hubungan dengan klien.

3.5  TUJUAN BIMBINGAN DAN KONSELING
a)      Tujuan Umum
Tujuan bimbingan dan konseling pada dasarnya adalah untuk membantu individu untuk memperkembangkan diri secara optimal sesuai denagn tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya , berbagai latar belakang yang ada dengan tuntunan positif lingkungannya. Dalam kaitannya, maka bimbinagn dan konseling membantu individu untuk menjadi insan yang berguna dalam kehidupannya yang memiliki berbagi wawasan, pandangan, interpretasi, pilihan, penyesuaian dan ketrampilan yang tepat berkenaan denagn diri sendiri dari lingkupnya. (Prayitno, 1999:114).
Pencapaian tujuan umum bimbingan dan konseling tersebut dalam rangka pengembangan perwujudan keempat dimensi kemanusiaan individu. Dimensi disini dimaksudkan sebagai sesuatu yang secara hakiki ada pada manusa disatu segi dan disegi lain sebagai sesuatu yang dapat dikembangkan. Dalam kaitan itu masing-masing gejala mendasar tersebut dapat dirumuskan sebagai dimensi keindividualan (individualitas), dimensi kesosialan (sosialitas), dimensi kesusilaan (moralitas), dan dimensi keberagaman (religiusitas).
Pengembangan dimensi keindividualan memungkinkan seseorang memperkembangkan segenap potensi yang ada pada dirinya secara optimal mengarah kepaa aspek-aspek kehidupan yang positif. Bakat, minat, kemampuan dan berbagai kemungkinan yang termuat didalam aspek-aspek mental-fisik dan biologis berkembang dalam rangka dimensi keindividualan itu.
Perkembangan dimensi kesosialan memungkinkan seseorang mampu berinteraksi, berkomunikasi bergaul, bekerjasama dan hidup bersama oranglain. Kaitan antara dimensi keindividualan dan kesosialan memperlihatkan bahwa manusia adalah sekligus makhluk individu dan makhluk sosial. Dimesi pribadi dan sosial saling berinteraksi dan keduanya saling tumbuh, saling mengisi dan saling menemukan makna yang sesungguhnya.
Dimensi kesusilaan memberikan warna moral terhadap perkembangan dimensi pertama dan kedua. Norma, etika, dan berbagai ketentuan yang berlaku mengatur bagaimana kebersamaan antar individu seharusnya dilaksanakan.
Perkembangan ketiga dimensi itu memungkinkan manusia menjalani kehidupan. Dengan ketiga dimensi diatas itu merek dapat hidup dengan sangat layak dan dapat mengembangkan ilmu, teknologi, dan seni sehebatnya-hebatnya. Kehidupan manusia yang selengkapnya, yaitu yang menjangku baik kehidupan duniawi maupun kehidupan di akhirat.
b)      Tujuan Khusus
Tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tentang tujuan umum dan dikaitkn secara langsung dengan permasalahan yang dialami individu yang bersangkutan, sesuai denagn kompleksitas permasalahan itu. Masalah yang dihadapi individu sangat beragam, memiliki intensitas yang berbeda-beda serta bersifat unik. Dengan demikian maka tujun khusus bimbingan dan konseling untuk tiap-tiap individu bersifat unik pula, artinya tujuan bimbingan dan konseling untuk individu yang satu dengan individu yang lain tidak boleh disamakan.

3.6  FUNGSI BIMBINGAN DAN KONSELING
  1. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
  2. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex).
Beberapa kegiatan yang dapat berungsi pencegahan antar lain:
Ø  Program Orientasi
Ø  Program bimbingan karir
Ø  Program pengumpulan data
Ø  Program kegiatan kelompok
  1. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.
  2. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
  3. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
Bentuk kegiatan bimbingan dalam fungsi penyaluran memberi bantun dalam :
Ø  Memperoleh jurusan yang tepat
Ø  Menyusun program kerja
Ø  Pengembangan bakat dan minat
Ø  Perencanaan karir
  1. Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
  2. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
Bentuk kegiatan bimbingan dalam fungsi penyesuaian antara lain :
Ø  Orientasi terhadap sekolah untuk memeperoleh berbagai ahl seperti kurikulum, fasilitas, dan lain – lain.
Ø  Kegiatan – kegiatan kelompok untuk memperoleh penyesuaian sosial yang baik
Ø  Pengumpulan data siswa sebagai penyesuaian diri terhadap lingkungan
Ø  Bimbingan perorangan untuk mengarahkan penyesuaian diri yang lebih baik terhadap lingkungan
  1. Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
  2. Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
  3. Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli.

3.7  AZAS – AZAS BIMBINGAN DAN KONSELING
a.       Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.
b.      Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.
c.       Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
d.      Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.
e.       Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.
f.       Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.
g.      Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
h.      Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
i.        Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut.
j.        Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
k.      Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orangtua.
3.8  PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN KONSELING
Prinsip merupakan paduan hasil kegiatan teoretik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan (Prayitno, 1997:219). Berikut ini prinsip-prinsip bimbingan konseling yang diramu dari sejumlah sumber, sebagai berikut:
a.      Sikap dan tingkah laku seseorang sebagai pencerminan dari segala kejiwaannya adalah unik dan khas. Keunikan ini memberikan ciri atau merupakan aspek kepribadian seseorang. Prinsip bimbingan adalah memperhatikan keunikan, sikap dan tingkah laku seseorang, dalam memberikan layanan perlu menggunakan cara-cara yang sesuai atau tepat.
b.      Tiap individu mempunyai perbedaan serta mempunyai berbagai kebutuhan. Oleh karenanya dalam memberikan bimbingan agar dapat efektif perlu memilih teknik-teknik yang sesuai dengan perbedaan dan berbagai kebutuhan individu.
c.      Bimbingan pada prinsipnya diarahkan pada suatu bantuan yang pada akhirnya orang yang dibantu mampu menghadapi dan mengatasi kesulitannya sendiri.
d.     Dalam suatu proses bimbingan orang yang dibimbing harus aktif , mempunyai bayak inisiatif. Sehingga proses bimbingan pada prinsipnya berpusat pada orang yang dibimbing.
e.      Prinsip referal atau pelimpahan dalam bimbingan perlu dilakukan. Ini terjadi apabila ternyata masalah yang timbul tidak dapat diselesaikan oleh sekolah (petugas bimbingan). Untuk menangani masalah tersebut perlu diserahkan kepada petugas atau lembaga lain yang lebih ahli.
f.       Program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya senantiasa diadakan penilaian secara teratur. Maksud penilaian ini untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan program bimbingan. Prinsip ini sebagai tahap evaluasi dalam layanan bimbingan konseling nampaknya masih sering dilupakan. Padahal sebenarnya tahap evaluasi sangat penting artinya, di samping untuk menilai tingkat keberhasilan juga untuk menyempurnakan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling (Prayitno, 1997:219).
Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan, baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. Prinsip-prinsip itu adalah:
  • Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).
  • Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.
  • Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang.
  • Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai teamwork.
  • Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan.
  • Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.
3.9  ORIENTASI BIMBINGAN DAN KONSELING
Orientasi yang dimaksud disini ialah “pusat perhatian“ atau “titik berat pandangan”. Titik berat pandangan konselor kepada klien dalam orientasi bimbingan sebagi berikut :
1.      Orientasi Perorangan
Orientasi perseorangan bimbingan dan konseling menghendaki agar konselor menitikberatkan pada siswa secara individu. Individu diutamakan dari kelompok dianggap sebagi lapangan yang dapat memberikan pengaruh tertentu terhadap individu. Beberapa kaidah yang berkaitan dengan orientasi perseoranagn dalm bimbingan dan konseling, yaitu:
a.    Semua kegiatan yang diselenggarakan dalam rangaka layanan bimbingan dan konseling diarahkan bagi peningkatan perwujudan diri sendiri setiap individu yang menjadi sasaran layanan.
b.   Pelayanan BK meliputi kegiatan berkenaan dengan individu untuk memahami kebutuhan – kebutuhan, motivasi, untuk menbantu individu agar dapat menghargai kebutuhan, penghargaan yang optimal.
c.    Setiap klien harus diterima sebagai individu dan harus ditangani secara individual. (Ronger, dalam Mc.Daniel, 1956)
d.   Adalah menjadi tanggung jawab konselor untuk memahami minat, kemampuan, dan perasaan klien serta untuk menyesuaikan program – program pelayanan dengan kebutuhan klien serepat mungkin. Dalam hal itu, penyelenggaraan program yang sistematis untuk mempelajari individu merupakan dasar yang tak terelakkan bagi berfungsinya program bimbingan.(Mc. Daniel dalam Prayitno, 1999:236)
2.      Orientasi Perkembangan
Orientasi perkembangan dalam bimbingan dan konselin lebih menekankan pentingnya peranan perkembangan yang terjadi pada saat ini dan yang akan terjadi pada diri individu di masa yang akan datang. Menurut Myrick (dalam Mayers, 1992) perkembangan individu secara tardisional dari dulu sampai sekarang menjadi inti dari pelayanan bimbingan. Dalam hal ini peranan bimbingan adalah memberikan kemudahan – kemudahan bagi gerak individu menjadu alur perkembangannya.
Pelayanan bimbingann dan konseling dipusatkan untuk menunjang kemampuan intern individu dan bergerak menuju kematangan dalam perkembangan . Ivey dan Rigazio (dalam Mayers, 1992) menekankan bahwa orientasi perkembangan justru merupakan ciri khas yang menjadi inti gerakan bimbingan. Secara khusus Thompson dan Rudolp (1983) melihat perkembangan individu dari perkembangan kognitif. Dalam perkembangan anak kemungkinan mengalami 4 hambatan perkembangan kognitif yaitu :
a.    Hambatan egosentrisme, yaitu ketidakmampuan melihat kemungkinan lain di luar apa yang dipahaminya.
b.   Hambatan kosentrasi, ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian pada lebih dari satu aspek tentang semua hal.
c.    Hambatan reversibilitas, yaitu ketidakmampuan menelusuri alur yang terbalik dari alur yang dipahami semula.
d.   Hambatan transformasi, yaitu ketidakmampuan meletakkan sesuatu pada susunan urutan yang telah ditentukan.
Thompson dan Rudolp menekankan bahwa tugas bimbingan dan konseling adalah menangani hambatan – hambatan terserbut.
3.      Orientasi Permasalahan
Hambatan dan rintangan seringkali dialami oleh individu dalam menjalani kehidupan dan proses perkembangan. Dengan kaitannya denagn fungsi – fungsi bimbingan orientasi masalah secara langsung berhubungan dengan fungsi pencegahan dan fungsi pengentasan. Fungsi pencegahan menghendaki agar individu dapat tarhindar dari masalah – masalah yang mungkin membebani dirinya, sedangkan fungsi pengentasan menginginkan agar individu yang sudah terlanjur mengalami masalah dapat terentaskan masalahnya. Fungsi – fungsi lain juga bersangkut paut dengan permasalahn pada klien.

3.10     POLA UMUM 17 PLUS
Pengembangan dan penyempurnaan dari Pola 17 (Prayitno, 2006) yaitu penambahan pada bidang bimbingan, jenis layanan dan kegiatan pendukung. Pola 17 Plus menjadi :
a.      Keterpaduan mantap tentang pengertian, tujuan, fungsi, prinsip dan asas serta landasan BK (Wawasan Bimbingan dan Konseling: fungsi ditambah satu yaitu fungsi advokasi).

b.      Bidang Pelayanan BK meliputi :
            B.1. Bidang Pengembangan Pribadi
            B.2. Bidang Pengembangan Sosial
            B.3. Bidang Pengembangan Kegiatan Belajar
            B.4. Bidang Pengembangan Karir
            B.5. Bidang Pengembangan Kehidupan Berkeluarga
            B.6. Bidang Pengembangan Kehidupan Beragama

c.      Jenis Layanan BK meliputi :
            L.1. Layanan Orientasi (Orin)
            L.2. Layanan Informasi (Info)
            L.3. Layanan Penempatan dan Penyaluran (PP)
            L.4. Layanan Penguasaan Konten (PKO)
            L.5. Layanan Konseling Perorangan (KP)
            L.6. Layanan Bimbingan Kelompok (BKp)
            L.7. Layanan Konseling kelompok (KKp)
            L.8. Layanan Konsultasi (KSI)
L.9 Layanan Mediasi (MED)

d.     Kegiatan Pendukung BK
            P.1. Aplikasi Instrumentasi (AI)
            P.2. Himpunan data (HD)
            P.3. Konferensi Kasus (KK)
            P.4. Kunjungan Rumah (KR)
            P.5. Tampilan Kepustakaan (TKp)
            P.6. Alih Tangan Kasus (A.Tk)

BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah melakukan observasi pada SMA N 2 UNGARAN dapat mngetahui peranan BK dan berbagiai hal yang berhubungan dengan BK baik secara langsung maupun tidak. Serta setelah mempelajari mata kuliah Bimbingan dan Konseling dan melihat penerapannay di sekolah dengan melakukan observasi tersebut dapat diketahui tentang masalah – masalah yang dihadapi BK dan cara mengatasi masalah tersebut.
Di sekolah ini BK sudah tidak asing lagi bagi seluruh warga sekolah. Terutama bagi siswa – siswa yang notabennya saat SMP sudah tahu tentang BK. Tapi, yang disayangkan adalah siswa – siswa mempunyai anggapan tentang BK bahwa yang berurusan dengan BK adalah siswa yang memiliki masalah padahal tidak seperti itu. BK sudah dimasukkan dalam kurikulum pembelajaran, sehingga setiap minggunya siswa memperoleh pelajaran ini. Didalam pelajaran BK tidak hanya menjelaskan mengenai tata tertib sekolah saja. Melainkan juga tentang bimbingan karir, cara pengentasan suatu masalah dan sebagainya. Seperti orientasi pada BK mengenai perseorangan, perkembangan dan permasalahan yang semuanya itu bertujuan untuk membantu.
Pelaksanan BK disekolah berjalan dengan baik dengan adanya dukungan yang diberikan oleh para warga sekolah seperti, kepala sekolah, guru – guru dan siswa. Serta dalam penerapannya yang mengikut sertakan semua warga dan saling bekerjasama. Dari data yang diperoleh angket yang diberikan kepada siswa, pengamatan, wawancara dapat diperoleh hasil tentang pelaksanaan BK. Masih banyak siswa yang mematuhi peraturan di sekolah walaupun ada yang merasa terpaksa dengan aturan tersebut, dengan itu kondisi sekolah menjadi tertib. Siswa juga memanfaatkan fasilitas – fasilitas sekolah.
Bimbingan dan konseling digunakan untuk menangani anak – anak bermasalah yang sebernanya dalam artian tidak memberi hukuman melainkan memberikan pengarahan atau jalan keluar dari masalah yang dihadapi oleh siswa maupun guru. Selain itu, BK juga sekarang ini sudah mulai menangani siswa – siswa yang hendak sharing karena banyak siswa yang mulai nyaman jika sharing dengan BK karena BK menggunakan asas – asas Bimbingan dan Konseling sebagai pedomannya. Seperti asas kesukarelaan, asas kerahasiaan, asas kesukarelaan, dan sebagainya. Selain itu, BK juga melaksanakan bimbingan individu terhadap siswa dan bimbingan kelompok. BK dimasukkan dalam kurikulum sangat membantu siswa karena pada setiap pertemuan dapat membahas tentang permasalahan secara umum baik akademis maupun non akademis.
Masalah yang sering terjadi pada siswa seperti yang diungkapkan Prayitno(1994, 42) masalah yang dihadapi siiwa adalah pelanggaran tata tertib, pengarahan penjurusan, hubungan sosial sesama siswa ataupun sesama guru, penyesuaian tugas – tugas sekolah dan sebagainya. Dalm penentuan jurusan BK memiliki peran penting karena BK menjadi tempat berkonsultasi siswa tentang jurusan yang sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya. Dan BK bermanfaat untuk membantu siswa sesuai dengan fungsi – funsinya seperti fungsi pencegahan terhadap hal – hal yang merusak siswa dengan memberikan informasi – informasi kepada siswa. Selain itu, fungsi pengentasan yang digunakan untuk membantu siswa menyelesaikan masalahnya dengan mengambil jalan keluar yang terbaik.
Dalam proses pelaksanaan BK dibantu atau bekerjasama dengan berbagi pihak yang bersangkutan yaitu kepala sekolah, guru, siswa, orangtua, lembaga hukum. Pengenalan BK sudah ada mulia dari kelas X, serta BK ada dalam kurikulum yang setiap minggunya masuk kelas untuk memberikan arahan kepada siswa. Guru merupakan patner kerja yang mendukung pelaksanaan BK, karena guru menjadi informan BK tentang keadaan siswa terutama wali kelas yang selalu mempunyai inforamsi dikelas saat BK tidak bisa sepenuhnya mengontor siswa karena setiap guru BK memegang 5 kelas. BK juga memjadi saran ainformasi tentang karir, event – event, beasiswa seperti yang memang menjadi pelayanan BK sebagai layanan informasi.
Pada saat menjelang UAN seperti saat ini BK memberikan informasi tentang bimbel, universitas – univeritas, waktu diadakannya try out, batas nilai UAN dan lain – lain. Memberikan motivasi, kiat – kiat belajar, membentuk kelompok belajar untuk siswa agar mudah mengerjakan tugas – tugas secara bersama – sama. Bk juga menjalin hubungan dengan orantua siswa jika siswa mengalami kesulitan maupun permasalahan. BK juga mengadakan kunjungan kerumah siswa.
                Jenjang Sekolah Menengah merupakan setting yang paling subur bagi konselor karena di jenjang itulah konselor dapat berperan secara maksimal dalam memfasilitasi konseli mengaktualisaikan potensi yang dimilikinya secara optimal. Konselor berperan untuk membantu peseta didik dalam menumbuhkembangkan potensinya. Salah satu potensi yang seyogyannya berkembang pada diri konseli adalah kemandirian, seperti kemampuan mengambil keputusan penting dalam perjalanan hidupnya yang berkaitan dengan pendidikan maupun persiapan karier. Dalam melaksanakan program bimbingan dan konseling, konselor seyogyanya melakukan kerjasama (kolaborasi) dengan berbagai pihak yang terkait, seperti dengan kepala Sekolah/ Madrasah, guru-guru mata pelajaran, orang tua konseli. Di samping itu dapat bekerjasama dengan ahli misalnya dokter, psikolog, dan psikolog.
Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pelayanan bimbingan dan konseling lebih difokuskan kepada upaya membantu konseli mengokohkan pilihan dan pengembangan karir sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya. Bimbingan karir (membangun soft skills) dan bimbingan vokasional (membangun hard skilss) harus dikembangkan sinergis, dan untuk itu diperlukan kolaborasi produktif antara konselor dengan guru bidang studi/mata pelajaran/keterampilan vokasional.
Secara utuh keseluruhan proses kerja bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal dapat digambarkan pada Gambar 4
Gambar 4
Kerangka Kerja Utuh Bimbingan dan Konseling
Menunjukkan bahwa seluruh pelayanan bimbingan dan konseling yang selama ini dilaksanakan di Sekolah bisa dipayungi oleh dan terakomodasi ke dalam kerangka kerja tersebut. Berdasarkan kerangka kerja utuh dimaksud pelayanan bimbingan dan konseling harus dikelola dengan baik sehingga berjalan secara efektif dan produktif. Fungsi manajemen yang penting dijalankan dalam pelayanan bimbingan dan konseling meliputi: perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, analisis dan tindak lanjut.
Dalam merencanakan program BK dilakukan setiap akhir semester genap. Program yang diusung BK setiap tahunnya berbeda sesuai dengan hal – hal yang ada di sekitar. Dalam pembuatan program BK mengacu landasan program sebelumnya, jika program sebelunya ada program – progam yang terlaksana sengan baik dan sesuai dengan harapan maka akan dilakukan lagi program selanjutnya serta melihat program apa yang tidak sesuai dengan siswa dan penunjangnya.
Penyusunan program kerja BK melihat kondisi siswa saat ini, hal – hal apa yang perlu bagi siswa atau kebutuhan siswa sejauh mana masalah peserta didik, yang menyangkut karakteristik peserta didik, seperti aspek-aspek fisik (kesehatan dan keberfungsiannya), kecerdasan, motif belajar, sikap dan kebiasaan belajar, minat-minatnya (pekerjaan, jurusan, olah raga, seni, dan keagamaan), masalah-masalah yang dialami, dan kepribadian , kondisi saat ini seperti apa, disesuaikan dengan kurikulum juga. Selain itu, terkait dengan kegiatan mengidentifikasi harapan Sekolah dan masyarakat (orang tua peserta didik), sarana dan prasarana pendukung program bimbingan, kondisi dan kualifikasi konselor, dan kebijakan Kepala Sekolah. Dalam merumuskan program, struktur dan isi/materi program ini bersifat fleksibel yang disesuaikan dengan kondisi atau kebutuhan peserta didik berdasarkan hasil penilaian kebutuhan di masing-masing Sekolah.
Dalam melakukan evaluasi tentang pelaksanaan BK dilakukan oleh koordinator BK dan guru BK. Diadakannya evalusi agar dapat dambil simpulan apakah kegiatan yang telah terencanakan telah mencapai sasaran yang diharapkan secara efektif dan efisien atau tidak, kegiatan pada program dilanjutkan atau sebaliknya direvisi dan sebagainya. Evaluasi pelaksanaan program BK menempuh beberapa pendekatan dan metode. Setelah diadakan evaluasi maka semua kebijakan diberikan kepada koordntor BK selaku pemimpin dalam pelaksanaan BK di sekolah.
Bimbingan dan konseling menyediakan berbagai pelayanan, diantaranya pelayanan orientasi untuk memberikan pemahaman dan penyesuian terhadap lingkungan sekolah bagi siswa baru yang berisi orientasi umum, orientasi kelas, orientasi kelas akhir. Layanan informasi memberi bekal kepada individu tentang berbagai hal yang berguna bagi pelajar, anggota keluarga, dan masyarakat.
Layanan penempatan/penyaluran untuk menyalurkan siswa sesuia kemampuan dengan penjurusan kelompok belajar, karir, kegiatan extra kurikuler sesuia kondisi fisik dan psikis. Layanan pembelajaran berfungsi pengenalan siswa dalam mengatasi permasalahan belajar dengan memberikan motivasi, kiat-kiat belajar yang baik.
Layanan konseling perorangan memberikan pelayanan pada beberapa bidang bimbingan. Diantaranya, bidang bimbingan pribadi, bidang bimbingan sosial, bidang bimbingan belajar, dan pada bimbingan karir. Pada layanan bimbingan kelompok agar siswa dapat menyampaikan pendapat mereka tentang topik yang dibicarakan. Pelayanan-pelayanan tersebut telah di lakukan dengan baik.  



BAB V
PENUTUP

5.1    Simpulan
Pelaksanaan BK di sekolah dilaksanakan sesuai dengan kerangka kerja BK yang mengacu pada pelayanan yang diberikan kepada siswa maupun guru. Dalam pelaksanaan BK dibantu oleh beberapa pihak yang saling terkait diantaranya kepala sekolah, guru baik guru mata pelajaran maupun wali kelas, orang tua, siswa, maaupun lembaga hukum. BK memberikan informasi seperti layanan yanga harus dijalankan yaitu layanan informasi.
Dalam mendengarkan curhatan siswa BK menggunkan asas – asas dalam BK yaitu asas kesukarelaan, keterbukaan dan kerahasiaan. BK juga sebagai alat pengembangan potensi pada diri siswa. Selain itu, BK juga menggunakan orientasi perkembangan dalam mengembangkan potensi siswa. Dalam melaksanakan bimbingan di setiap sekolah berbeda seperti pada SMA dan SMK. Pada SMA cenderung menyiapkan pada akademik siswa dibandingkan pada SMK yang lebih memberikan bimbingan karir untuk menyiapkan pada dunia kerja.
Dalam pelaksanaannya BK juga menggunakan layanan-layanan. Diantaranya, layanan informasi, layanan orientasi, layanan penempatan/penyaluran, layanan pembelajaran, layanan konseling perorangan, dan layanan bimbingan kelompok.


5.2    Rekomendasi

Perlu diadakan sosialisasi kembali tentang fungsi BK agar siswa tidak memiliki pemikiran bagi BK secara negatif. Guru pembimbing menfasilitasi yang lebih baik, dan menarik sehingga siswa lebih terbuka untuk menggunakan layanan bimbingan dan konseling. Pihak sekolah harus lebih meningkatkan kerjasama dalam layanan bimbingan dan konseling untuk mendapatkan hasil yang maksimal sesuai dengan tujuan dari layanan bimbingan dan konseling itu sendiri. Bimbingan dan konseling memberikan suatu bentuk permainan dalam memotivasi siswa lebih mudah.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar