PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.
Dewasa ini jumlah anak jalanan di Indonesia semakin meningkat. Hal ini dibuktikan pada tahun 2006 terdapat 78,96 juta anak di bawah usia 18 tahun, 35,5% dari total seluruh penduduk Indonesia. Sebanyak 40% atau 33,16 juta diantaranya tinggal di perkotaan dan 45,8 juta sisanya tinggal di perdesaan. Sebagian besar anak-anak ini berasal dari keluarga miskin dan tertinggal, yang tidak mempunyai kemampuan untuk memberdayakan dirinya, sehingga rentan terhadap kekerasan, eksploitasi, ketimpangan gender, perdagangan anak dan lain-lain. Menurut laporan Depsos pada tahun 2004, sebanyak 3.308.642 anak termasuk ke dalam kategori anak terlantar.
Kota Semarang adalah salah satu kota besar di Indonesia, ibu kota Propinsi Jawa Tengah, pusat segala aktivitas ekonomi, sosial dan budaya sepertihalnya kota-kota lain yang sedang berkembang di seluruh dunia. Sekarang ini banyak berdiri kantor-kantor, pusat perbelanjaan, sarana perhubungan, pabrik, sarana hiburan dan sebagainya yang mendorong para urban untuk mengadu nasib di Kota Semarang. Bagi mereka yang mempunyai bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang cukup bukan tidak mungkin mereka mampu bertahan di kota ini. Tetapi bagi mereka yang belum beruntung tak sedikit yang menjadi gelandangan atau pengemis. Adalah sebuah pemandangan yang sering kita temui di jalanan besar Kota Semarang, beberapa anak usia sekolah yang memintaminta, berjualan koran, mengamen atau becanda dengan kawan-kawannya. Mereka inilah yang disebut anak jalanan. Anak Jalanan adalah seseorang yang berumur di bawah 18 tahun yang menghabiskan sebagian atau seluruh waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan guna mendapatkan uang atau guna mempertahankan hidupnya. Untuk mempertahankan hidup, anak-anak yang hidup di jalanan biasanya melakukan aktivitas tertentu seperti mengamen, mengemis, mengelap kaca,jualan koran, parkir dan lain sebagainya.
Anak jalanan muncul karena ketimpangan struktur penduduk, dimana anak usia muda jumlahnya banyak, sedangkan tingkat kesejahteraan mereka masih minim sekali. Juga, kehadiran anak jalanan tidak terlepas dari pengaruh sosial budaya, psikologis dan pendidikan. Dilihat dari segi pendidikan rata-rata anak jalanan mengesampingkan pendidikan.
Rendahnya pendidikan anak jalanan membatasi mereka untuk berkembang. Mereka hanya melakukan kegiatan yang monoton, tanpa suatu perubahan yang ingin dicapai. Rendahnya pendidikan juga mempengaruhi mereka dalam berprilaku, apalagi yang berkaitan dengan kebersihan. Tingkat pendidikan yang rendah membuat mereka kurang mengetahui tentang pola hidup sehat, mengingat sebagian waktunya dihabiskan dijalanan yang rentan dengan berbagai penyakit.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada, penelitian ini difokuskan pada permasalah sebagai berikut:
a. Bagaimana tingkat pendidikan anak jalanan?
b. Bagaimana hubungan tingkat pendidikan anak jalanan terhadap pola hidup sehat?
1.3 Tujuan Penelitian
Setiap penelitian pasti memiliki tujuan. Tujuan dari penelitian ini adalah:
a. Mengetahui tingkat pendidikan anak jalanan.
b. Mengetahui hubungan tingkat pendidikan anak jalanan terhadap pola hidup sehat.
1.4 Manfaat
Manfaat dari adanya penelitian ini yaitu:
a. Mengetahui bagaimana potret anak jalanan di Indonesia khususnya kota Semarang.
b. Mengajak pihak swasta maupun pemerintah untuk ikut serta memajukan anak jalanan. Membuat bagaimana anak jalanan hanya tidak tertinggal dalam bidang ekonomi maupun pendidikan tetapi diharapkan para anak jalanan mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kesehatannya sehingga terhindar dari berbagai penyakit.
c. Sebagai pijakan penelitian selanjutan.
TINJAUAN PUSTAKA
Berbagai penelitian tentang anak jalanan sudah banyak dilakukan. Penelitian ini menjadi menarik ketika terdapat fakta bahwa sebagian dari anak bangsa yang seharusnya menghabiskan waktunya di sekolah malah mencari nafkah di jalanan. Anak jalanan menghabiskan sebagian besar waktunya dijalanan. Penelitian tentang anak jalanan muncul dengan berbagai fokus permasalahan. Seperti halnya penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Juwartini (2004), penelitian tersebut berfokus pada bagaimana kehidupan atau profil anak jalanan perempuan di Tugu Muda, Semarang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, Wahyu (2004 : 69) menyimpulkan bahwa anak jalanan perempuan mempertahankan hidup dengan cara membangun solidaritas, melakukan kegiatan ekonomi, memanfaatkan barang bekas/ sisa, melakukan tindakan kriminal, serta melakukan kegiatan yang rentan terhadap eksploitasi seksual.
Selain itu sebagian besar penelitian yang dilakukan oleg Wahyu terdapat pila penelitian lainnya mengenai kekerasan yang dialami anak jalanan. Ketika anak jalanan mendapatkan pendidikan yang rendah mengakibatkan mereka rentan terhadap kekerasan. Mereka tidak bisa membela dirinya sendiri, padahal UU telah melindungi mereka terhadap berbagai macam tindak kekerasan. Penelitian serupa dilakukan oleh Ferijani (2006:125) yang melihat bahwa tindak kekerasan dialami anak jalanan kota semarang baik dalam keluarga, tempat umum (jalan) maupun sekolah . Kekerasan tersebut berupa kekerasan fisik dan psikis. Kekerasan dalam rumah tangga dilakukan oleh anggota keluarga anak jalanan yakni dilakukan oleh orang tua, saudara, kakek atau neneknya. Kekerasan yang dialami di sekolah dilakukan oleh guru dan teman-temannya. Sedangkan tindak kekerasan saat mereka di jalanan banyak dilakukan oleh sesama anak jalanan, aparat Satpol PP dan orang yang tak mereka kenal. Dalam penelitian tersebut dijelaskan anak jalanan mempunyai perlindungan yang dibuat oleh Negara maupun pemerintah kota Semarang. Ferijani menyebutkan bahwa peraturan tersebut bersifat pernyataan.
Semua penilitian yang dilakukan oleh Wahyu (2004) dan Ferijani(2006) mempunyai fokus permasalah yang berbeda-beda. Perbedaan tarsebut juga berlaku pada penulis, jika Wahyu (2004) dan Ferijani (2006) meneliti tentang profil anak jalanan perempuan dan kekerasan yang dialami anak jalanan. Maka dalam penelitian ini penulis mengangkat permasalahan yang berbeda sebagai pelengkap penelitian yang sudah ada. Pokok permasalahan yang akan disampaikan dalam penelitian ini adalah dampak dari rendahnya tingkat pendidikan anak jalanan terhadap pola hidup sehat anak jalan. Anak jalanan identik dengan kehidupan yang sederhana, artiya mereka kurang memperhatikan tentang kesehatan mereka sendiri. Kurangnya perhatian tersebut dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Jalanan adalah tempat dari semua jenis penyakit, anak-anak yang dalam masa-masa pertumbuhan seharusnya berada di tempat yang bersih untuk memcapai tumbuh- kembang yang optimal. Untuk itu demi berkembangnya generasi bangsa yang sehat perlu adanya pemberdayaan pendidikan, terutama pendidikan kesehatan bagi anak jalanan.
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Anak
Anak adalah amanat Tuhan Yang Maha Esa yang semenjak awal kehidupannya telah dikaruniai harkat, martabat dan hak-hak asasi. Hak tersebut harus dilindungi sedemikian rupa sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehat jasmani dan rohani, cakap serta mampu mandiri. Pengertian anak dalam UU RI No.4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak pasal 1 ayat 2, anak adalah seseorang yang belum cukup umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin ( Irma Setyowati S, 1990:16).
2.2 Anak Jalanan.
Anak jalanan adalah seseorang yang berumur dibawah 18 tahun yang menghabiskan sebagian atau seluruh waktunya dijalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan guna mendapatkan uang atau guna mempertahankan hidupnya. Arti anak jalanan disebut juga pekerja anak adalah seseorang yang menghabiskan waktu hidupnya di jalanan tetapi masih pulang kepada keluarga mereka. Anak jalanan adalah anak yang hidup di jalanan dan masih melangsungkan hubungan dengan keluarganya dan ditinggalkan ataupun yang lari dari keluarganya (Peran, 1999 November :7).
Meningkatnya jumlah anak jalanan terutama yang berasal dari kota Semarang sendiri menyebabkan terjadinya perubahan yang besar dalam kehidupan anak jalanan, yaitu
1. Lokasi anak jalanan yang semakin meluas.
2. Mulai Terjadinya Penguasaan wilayah.
3. Anak jalanan yang berasal dari luar kota semakin tersisih dan cenderung pindah ke kota lain.
4. Munculnya berbagai kegiatan baru untuk mendapatkan uang seperti lap mobil atau motor dan dominannya kegiatan mengemis.
5. Meningkatnya tindakan kriminal.
(Oi Shalahudin; 2000: 14-15)
Faktor- faktor penyebab terjadinya anak jalanan ini bisa digolongkan menjadi dua, yaitu :
1. Faktor Internal
a. Sifat malas dan tidak mau bekerja
b. Adanya cacat-cacat yang bersifat biologis- psikologis
c. Tidak ada kegemaran, tidak memiliki hobbi mengisi waktu luang maka dengan mudah untuk melakukan tindakan negative.
d. Ketidakmampuan penyesuaian diri terhadap perubahan lingkungan yang baik dan kreatif.
e. Impian Kebebasan, berbagai masalah yang dihadapi anak didalam keluarga dapat menimbulkan pemberotakan didalam dirinya dan berusaha mencari jalan keluar. Seorang anak merasa bosan dan tersiksa dirumah karena setiap hari menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar dan tidak memperhatikan mereka, pada akhirnya dia memilih kejalanan karena ia merasa memiliki kebebasan dan memiliki banyak kawan yang bisa menampung keluh kesahnya.
f. Ingin memiliki uang sendiri
2. Faktor Eksternal
a. Dorongan Keluarga
Keluarga dalam hal ini biasanya adalah ibu atau kakak mereka, adalah pihak yang turut andil mendorong anak pergi kejalanan. Biasanya dorongan dari keluarga dengan cara mengajak anak pergi kejalanan untuk membantu pekerjaan orang tuanya ( biasanya membantu mengemis) dan menyuruh anak unutk melakukan kegiatan-kegiatan dijalanan yang menghasilkan uang.
b. Pengaruh Teman
Pengaruh teman menjadi salah satu faktor yang menyebabkan anak pergi kejalanan. Pengaruh teman menunjukan dampak besar anak pergi kejalanan, terlebih bila dorongan pergi kejalanan mendapatkan dukungan dari orang tua atau keluarga. Kekerasan dalam keluarga
c. Kekerasan dalam keluarga banyak diungkapkan sebagai salah satu faktor yang mendorong anak lari dari rumah dan pergi kejalanan. Tindak kekerasan yang dilakukan oleh anggota keluarga terhadap anak memang dapat terjadi diseluruh lapisan sosial masyarakat. Namun pada lapisan masyarakat bawah atau miskin, kemungkinan terjadi kekerasan akan lebih besar dan tipe kekerasan yang lebih beraneka ragam seperti kesulitan ekonomi.
2.3 Pendidikan
Menurut ki Hajar Dewantara pendidikan pada umumnya ialah daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tumbuh anak (munib,2006:32). Didalam undang-undang RI No.20 tahun 2003 disebutkan bahwa pada hakekatnya pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri , kepribadian, kecerdasan akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Ruang lingkup pendidikan meliputi pendidikan informal, formal, dan non formal.
a. Pendidikan informal
Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh individu dilingkungan keluarga berkaitan tentang perkenbangan diri individu. Cara individu menghormati orang lain, kebiasaan baik yang berupa tata krama, cara hidup sehat dan menjaga kesehatan yang merupakan pengjaran yang disampaikan pada anak secara informal.
b. Pendidikan Formal
Pendidikan formal adalah yang terstuktur dan berjenjang seta mempunyai bentuk atau organisasi tertentu, dan aturan yang jelas dan tegas. Cirri-ciri pendidikan formal yaitu:
1. Terdapat jenjang.
2. Adanya program atau bahan ajar untuk setiap jenis sekolah.
3. Cara atau metode pengajaran juga formal, mengikuti pola tertentu.
4. Adanya proses penerimaan murid.
5. Homogenitas murid.
6. Adanya jangka waktu.
7. Kewajiban belajar.
8. Penyelenggaraan.
9. Waktu belajar.
10. Uniformitas.
c. Pendidikan Non Formal
Meliputui berbagai usaha khusus yang diselenggarakan secara terorganisir agar generasi muda dan juga individu dewasa yang tidak berkesempatan mengikuti sekolah dapat memiliki pengetahuan praktis dan kemampuan dasar yang mereka perlukan sbagai masyarakat produktif (Hadikusumo,1998:28).
2.4 Pola Perilaku Hidup Sehat.
Ben Handoyo dalam bukunya (1995:27) beliau menyebutkan bahwa kesehatan merupakan salah satu unsur yang penting dalam kehidupan masyarakat. Menurut Dacana (1996:51) dalam kaitannya dengan masalah kebersihan lingkungan mengatakan bahwa masalah budaya hidup sehat erat kaitannya dengan masalah kebersihan lingkungan. Dimana merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kedisiplinan dalam kehidupan sosialnya dilingkungan masyarakat. Lingkungan yang bersih, dapat terwujud apabila dalam sikap dan perilaku individu dalam masyarakat peduli terhadap alam sekelilingnya. Sikap dan perilaku demikian itu biasanya lahir dan dilatar belakangi oleh tingkat pengetahuan, kesadaran dan tingkat disiplin pribadi ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Disamping itu kebiasaan hidup yang bersih dan tertib merupakan hasil dari proses panjang trasformasi sistem nilai, baik nilai budaya maupun agama. Hal tersebut serupa dengan pernyataan Djoyomartono (2004:10) bahwa budaya hidup sehat erat kaitannya dengan perilaku seseorang dan persepsi seseorang dan juga lingkungan yang ada, sedangkan persepsi tentang kondisi kesehatannya dipengaruhi oleh budaya atau kebudayaan yang dimiliki.
Menurut Becker dalam Notoatmodjo (2003:118) menytakan bahwa perilaku hidup sehat merupakan perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan individu untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Pola perilaku hidup sehat mencakup:
a. Makan dengan menu seimbang.
b. Olahraga teratur.
c. Istirahat cukup.
d. Tidak merokok.
e. Tidak minum-minuman berakohol.
f. Mandi dengan sabun.
g. Mencuci tangan dengan sabun.
h. Konsumsi air bersih.
i. Buang air besar di WC.
j. Buang sampah pada tempatnya.
k. Menghuni rumah sehat.
Perilaku hidup sehat individu dipengaruhioleh banyak factor yang tercakup dalam factor internal dan eksternal (Notoatmodjo,2003:12).
Faktor internal adalah cirri-ciri individu yang mempengaruhi perilaku seperti sikap yang merupakan penilaian pada berbagai obyek,dan orang atau kejadian, serta pengetahuan (pendidikan). Dengan tingkat pendidikan yang ditempuh, individu akan mempunyai kemampuan berperan serta dalam pembangunan bidang kesehatan.
Faktor eksternal yaitu sesuatu yang berada di luar individu, yang meliputi social budaya, ekonomi, dan noma atau peraturan yang mengatur dan mendukung tindakan-tindakan yang dilakukan.
2.5 Teori Fungsionalisme Malinowski.
Salah satu faktor utama yang menyebabkan anak turun ke jalan untuk bekerja dan hidup di jalanan adalah karena kemiskinan. Kemiskinan merupakan factor dominan, tapi tidak satu-satunya. Ada faktor-faktor yang lebih luas dari pada sekedar kemiskinan, ada tiga tingkatan penyebab keberadaan anak jalanan.
1. Tingkat micro ( immediate cause), yaitu faktor yang berhubungan dengan anak dan keluarga.
2. Tingkat messo (underlying cause), yaitu faktor yang ada di masyarakat.
3. Tingkat macro (basic cause), yaitu faktor yang berhubungan dengan struktur besar dan kebijakan pemerintah.
Dalam teori fungsionalisme Malinowski dikatakan bahwa masyarakat adalah suatu sistem organisme yang di dalamnya mempunyai peran dan fungsi masing-masing untuk menjaga kelangsungan sistem maka masing-masing organ atau bagian kemasyarakatan harus saling mendukung. Jika terjadi kesalahan pada suatu system yang tidak berjalan sebagaimana mestinya maka akan muncul kerusakan atau kesalahan peran organ. Sebaliknya jika terjadi kerusakan atau kesalahan kerja system, maka pasti pula menyebabkan kerusakan pada organ.
Anak jalanan adalah bukti kerusakan system peran dimana terjadi pergeseran peran dan fungsi dalam keluarga (micro). Keluarga sebagai media sosialisasi pertama yang berperan besar dalam tumbuh kembang seorang anak. Karena berbagi tekanan keluarga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Anak yang seharusnya belajar dan membantu orang tua hanya sewajarnya kini mangalami perubahan seperti anak menjadi penopang ekonomi keluarga. Hal ini dilakukan anak karena beberapa sebab baik dari pihak anak maupun keluarga antara lain anak lari dari keluarga , ingin bekerja baik masih sekolah maupun saat putus sekolah, berpetualang mencari kebebasan dan tertarik akan kehidupan jalanan, serta karena bermain-main atau diajak teman. Sebab dari keluarga adalah karena ketidakmampuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan dalam keluarganya, anak terlantar, anak ditolak oleh orang tua, adanya kekerasan dalam rumah tangga, kesulitan berhubungan dengan keluarga atau tetangga, terpisah dengan orang tua, sikap yang salah terhadap anak, keterbatasan masalah anak sehinggan anak mengalami masalah fisik, psikologis dan sosial.
Lingkungan dan masyarakat (messo) juga sebagai penyebab bagi turunnya anak ke jalan yang erat kaitannya dengan fungsi utama stabilitas komunitas atau masyarakat yaitu pemeliharaan tata nilai dan pendistribusian kesejahteraan dalam kalangan masyarakat yang bersangkutan. Dalam pemeliharaan tata nilai misalnya, tetangga atau tokoh masyarakat tidak menegur ataupun melarang anak berkeliaran di jalan. Hal ini juga didukung oleh keadaan dimana para golongan ekonomi lemah biasanya berkumpul dan tinggal berkelompok disuatu wilayah, dan sudah menjadi kebiasaan ketika keadaan ekonomi menempatkan anak sebagai salah satu penopang ekonomi keluarga, maka hal tersebut menjadi suat kewajaran pada lingkungan masyarakat yang bersangkutan.
Tidak semua anak jalan berasal dari keluaga yang tinggal di lingkungan kumuh. Sebagian dari mereka juga tinggal di lingkungan yang normal, akan tetapi kurang mendapat perhatian dari masyarakat sekitarnya. Dengan kata lain masyarakat tidak memberikan pelindungan terhadap anak yang terlantar di lingkungan masyarakatnya. Hal ini menunjukkan semakin berkurangnya solidaritas dan kepedulian sosial pada masyarakat.
Pada tingkat messo (masyarakat), sebab anak turun ke jalan ialah untuk membantu orang tua, meningkatkan pendapatan keluarga. Anak atas keinginan sendiri atau dipaksa oleh orang tua turun ke jalan sebagai salah satu penopang ekonomi keluarga yang sudah menjadi suatu kewajaran pada masyarakat tertentu (masyarakat miskin perkotaan yang tinggal dipemukiman kumuh).
Sedang pada tingkat makro erat hubungannya dengan kebijakan pemerintah seperti arah pembangunan yang tidak memihak golongan ekonomi lemah maka yang terjadi nantinya adalah pemiskinan secara struktural. Pembangunan yang timpang memaksa golongan ekonomi lemah mencari jalam keluar sesuai dengan kemampuan mereka. Permasalahan mulai muncul ketika masyarakat miskin ini mencari nafkah dengan cara yang dianggap melanggar atau merusak keindahan kota atau mengurangi kenyamanan di jalan yang harus ditindak lanjuti oleh pemerintah baik dengan cara pembinaan maupun dengan cara kekerasan.
Pada tingkat makro (structural) sebab yang dapat di identivikasi adalah bahwa anak jalanan dan golongan ekonomi lemah adalah korban pembangunan. Ketimpangan pembangunan di desa dan kota mendorang lahirnya urbanisasi. Akan tetapi kurangnya ketrampilan yang dimiliki membuat mereka terpinggirkan dan menjadi golongan miskin perkotaan. Peluang kegiatan ekonomi bagi golongan ekonomi lemah adalah sektor informal yang tidak begitu membutuhkan modal keahlian. Belum jelasnya sikap pemerintah yang memandang bahwa anak jalanan juga memerlukan perawatan, membuat anak jalanan seolah menjadi trouble maker atau pembuat masalah.
Karena pergeseran fungsi pada keluarga, masyarakat, dan pemerintah, maka muncul anak jalanan. Menurut teori fungsionalisme, Malinowsky berpendapat untuk menjaga stabilitas adalah dengan saling mempertahankan antar komponen dan mempertahankan fungsinya. Menurutnya dalam system organisme ada salah satu bagian yang tidak menjalankan perannya atau terjadi kerusakan sistem, maka keseluruhan sistem serta kinerjanya akan terganggu. Sebaliknya apabila organ tersebut tidak mampu atau mengalami kerusakan dalam menjalnkan perannya, maka kerja seluruh sistempun akan terganggu. Suatu system atau organ akan bertahan apabila ia mampu menopang dan menjalankan perannya dengan baik. Bila peran atau fungsinya tidak optimal maka ia akan gugur dan tergantikan oleh yang lain.
KERANGKA BERPIKIR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar