Pages

Subscribe:

Ads 488x100px

PENDIDIKAN TANPA BATAS
Tampilkan postingan dengan label wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wacana. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Desember 2011

Menimbang Lagi "Abad Asia"

Ahli serta lembaga ekonomi Barat mendesak China dan India untuk meningkatkan konsumsi.
Senin, 12 Desember 2011, 11:03 WIB
Bonardo Maulana Wahono

VIVAnews - Pada tahun 2050, penduduk Asia diperkirakan mencapai lima miliar orang. Sementara itu, sumbangan Uni Eropa terhadap populasi dunia akan menurun dari 9% menjadi 5%. Pertumbuhan ekonomi rata-rata di Asia  selama lebih dari 30 tahun terakhir menyentuh angka 5% per tahun.

Sabtu, 17 Desember 2011

Indonesia Dianggap Sabotase Pengendalian Tembakau


Kaum perempuan terdidik mampu jadi katalis perkembangan ekonomi suatu negara.

Ada dua citraan atas dua dunia yang berbeda dalam urutan teratas dan terbawah daftar "Global Women's Progress Report" tahun 2011 yang dipersiapkan oleh majalah Newsweek.

Pada urutan teratas - "Tempat Terbaik Bagi Perempuan" - terdapat negara-negara yang sudah bisa diduga bisa masuk dalam daftar: Islandia dan negara-negara Skandinavia, Belanda, Swiss dan Kanada. Di beberapa negara itu, ada beberapa kedudukan yang perlu diperhatikan selepas tahun 1990an yang menyangkut lima kategori survei: peradilan, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan politik. Di Amerika Serikat, perempuan memiliki pendidikan lebih tinggi daripada kaum lelaki. Di Turki, pelaku kekerasan dalam rumah tangga dilarang berada dalam rumah dan dilacak dengan monitor elektronik. Sedangkan Denmark dan Australia memilih perempuan sebagai perdana menteri.

5 Tipe Teman Penebar 'Racun'




Sangat menyenangkan memiliki banyak teman. Namun, jangan sampai hubungan pertemanan yang selama ini Anda jalani, berujung kelelahan psikologis. Karenanya, penting untuk mengevaluasi hubungan pertemanan.

Sikap seorang teman yang menjengkelkan bisa 'meracuni', bahkan berdampak negatif pada kepribadian Anda.

Cheryl Richardson, seorang life coach mengungkap lima tipe teman yang sebaiknya Anda hindari, seperti dikutip oprah.com.

Rabu, 14 Desember 2011

Melindungi dan melayani ???



VIVAnews - Markas Besar Kepolisian RI akan melindungi perekam video pembantaian petani di Mesuji, Lampung. Polisi pun akan mencari keterangan tambahan dari pelapor mengenai peristiwa tersebut.

"Prinsipnya, Polri akan melindungi siapapun. Bahkan tersangka pun kalau mau digebukin orang harus kami lindungi," kata Kabareskrim Komjen Sutarman di Gedung DPR, Jakarta, Rabu 14 Desember 2011.

Namun Sutarman masih merahasiakan siapa pelapor video tersebut. "Kalau pemberi informasi saya sebut namanya kan nanti tidak mau kasih informasi lagi," ujarnya.

Polisi, lanjut Sutarman, juga akan mencari informasi mengenai peristiwa pembantaian tersebut. "Kita cari dari mana sumbernya. Kalau kita bicara logika masa iya sih orang sadis gitu," ujarnya.

Dugaan pembantaian massal petani ini terkuak saat para petani mendatangi Komisi III Bidang Hukum DPR pagi tadi. Para petani yang didampingi Mayor Jenderal (Purn) Saurip Kadi membawa bukti rekaman video pembantaian 30 petani di Tulang Bawang Bawang Induk dan Tulang Bawang Barat, Lampung.

Mengapa Sondang Bakar Diri ?




    Sondang Berpesan Lanjutkan Perjuangan
    Pemerintah Harus Berkaca pada Kasus Sondang
    Sondang Mahasiswa Aktivis Marhaen
    RSCM Memberi Pertolongan Maksimal

oleh : dr.Andri,SpKJ *

Saya terus terang kaget ada berita tentang pendemo yang bakar diri di depan Istana Merdeka beberapa waktu lalu. Lebih kaget lagi karena ini dilakukan oleh seorang yang secara usia memang sudah dalam taraf disebut dewasa muda.

Selasa, 13 Desember 2011

Pemerintah Sediakan Beragam Beasiswa



Soelastri Soekirno | Nasru Alam Aziz | Kamis, 8 Desember 2011 | 21:23 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki beragam beasiswa bagi mahasiswa Indonesia yang bersekolah di dalam maupun luar negeri. Ada empat jenis bea siswa yang dikelola kementerian tersebut, yakni Bidik Misi, Prestasi Akademik, Olimpiade Sains Internasional (OSI), dan Unggulan.
Kecuali OSI yang memang hanya ditujukan bagi siswa SMA yang pernah menjadi juara dalam olimpiade sains tingkat nasional dan internasional, semua mahasiswa bisa mendapatkan formulir pendaftarannya di fakultas masing-masing. Maksudnya, penentu apakah lamaran mahasiswa untuk mendapat beasiswa dikabulkan atau tidak sepenuhnya tergantung penilaian pihak perguruan tinggi.
"Kemdikbud hanya mengirimkan uang yang besarnya sesuai pengajuan pihak universitas. Kami sama sekali tak tahu menahu perihal seleksi untuk penerima beasiswa," kata Thyar, staf Direktorat Kesiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud beberapa waktu lalu.
Berdasarkan fakta itu ia menepis tuduhan masyarakat bahwa pihak Kemdikbud bisa saja merekayasa penerima beasiswa tersebut. Biaya kuliah langsung ditransfer ke rekening perguruan tinggi tempat si penerima beasiswa berkuliah. Sementara uang buku, biaya hidup dan lainnya langsung di transfer ke rekening mahasiswa bersangkutan.
Dodi Dores (18), mahasiswa jurusan Sastra Rusia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia yang menjadi salah satu penerima beasiswa Bidik Misi membenarkan keterangan itu. "Saya tidak tahu berapa besar uang kuliah saya, sebab uang langsung dibayarkan ke universitas," ujar Dodi, lulusan SMA Mester Depok Jawa Barat.
Selain mendapat fasilitas tak membayar biaya pendidikan, Dodi juga menerima uang biaya hidup sekitar Rp 600.000 per bulan.
Ia mengakui uang biaya hidup memang tak cukup untuk hidup sebulan, sebab anak tukang ojek itu tinggal di asrama mahasiswa UI yang bertarip Rp 150.000 sebulan. "Ya uangnya dicukup-cukupkan," kata Dodi.
Namun, sementara ini ia belum menerima biaya hidup tersebut. Untuk menyambung hidup selain masih meminta uang kepada abangnya yang menjadi buruh serabutan, Dodi juga mengajar di SMA tempat ia sekolah dan menjadi tenaga magang di kantor Ikatan Alumni di fakultasnya.
"Kerja apa saja yang penting bisa makan dan menyempatkan waktu untuk belajar," katanya.
Selengkapnya tentang beasiswa dan syaratnya dapat dibaca di lembaran Kompas MuDA Harian Kompas edisi Jumat, 9 Desember 2011.


Guru Diharapkan Berperan Membangun Karakter Bangsa


| Benny N Joewono | Selasa, 13 Desember 2011 | 02:17 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim mengharapkan para guru di seluruh Indonesia untuk berperan aktif dalam membangun karakter bangsa dan membudayakan Pancasila.
"Guru harus berperan aktif dalam membangun karakter bangsa dan membudayakan Pancasila," kata Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Musliar Kasim pada acara "Rembuk Nasional Pembangunan Karakter Bangsa" di Jakarta, Senin (12/12/2011).
Musliar menjelaskan, pembentukan karakter bangsa sangat penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dekat dengan nilai-nilai pancasila.
"Untuk itu diperlukan pendidikan bagi masyarakat di bidang agama, sosial, budaya dan lain sebagainya yang bertujuan untuk membangun karakter dan membudayakan pancasila khususnya bagi generasi muda penerus bangsa," katanya.
Dia juga menambahkan, membangun karakter bangsa bukan hanya menjadi tugas bagi guru di pendidikan formal melainkan juga di pendidikan informal.
Dia juga menambahkan, pembangunan karakter bangsa juga harus dilakukan pada berbagai lingkup kehidupan baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat yang disertai dengan pelembagaan nilai-nilai pancasila.
"Strategi yang harus ditempuh adalah dengan mengintegrasikan semua sumber daya sosial dan budaya, semua elemen bangsa, semua unsur penyelenggara negara dan unsur pimpinan bangsa," katanya.
Untuk mendukung upaya tersebut, menurut dia perlu dilakukan aksi oleh semua elemen bangsa sesuai dengan peran dan kedudukannya.


Jumat, 09 Desember 2011

Kenapa Orang Pintar RI Eksodus ke Luar Negeri


Semakin kuatnya kecenderungan orang pintar Indonesia memilih tinggal di luar negeri.
Senin, 28 Desember 2009, 12:24 WIB
Heri Susanto
VIVAnews - Tahun 2009 segera berakhir, 2010 menjelang. Tanpa disadari, waktu terus berganti. Padahal, dibalik pergantian tahun itu, bangsa Indonesia tengah menghadapi persoalan serius. Jika dibiarkan, persoalan ini akan menimbulkan masalah besar pada jangka panjang.

Bahkan, persoalan tersebut nyata ada di depan mata. Ironisnya, ini belum disadari oleh pemerintah dan masyarakat pada umumnya. Akibatnya, masalah ini terus berlarut-larut sehingga merugikan Indonesia.

Salah satu fenomena yang menonjol itu adalah semakin kuatnya kecenderungan orang pintar Indonesia yang mendapat gelar doktor dari luar negeri, memilih tinggal dan bekerja di luar negeri. Mereka adalah doktor-doktor terbaik lulusan Yale, Cranfield, Stanford, MIT dan lain-lain. Umumnya mereka bergelut di bidang ilmu eksakta dan engineering seperti teknik, fisika, matematika komputer, dan sejenisnya.

Tahun 2007 saja sekitar 20-an doktor Indonesia lulusan luar negeri memilih bekerja di Malaysia, 3 orang bekerja di Brunei, dan sekitar 5 orang di Singapura. Setiap tahun Depdinkas dibanjiri permintaan para doktor yang sudah selesai ikatan dinas untuk diizinkan bekerja di luar negeri. Padahal untuk “mencetak” seorang doktor di perguruan tinggi bergengsi di luar negeri, biaya yang dibutuhkan lebih dari $30 ribu per tahun.

Ada beberapa alasan mengapa eksodus terjadi:
Pertama, Remunerasi. PTN tempat mereka bekerja sebelumnya tidak mampu memberikan remunerasi yang layak. Sementara gaji mereka di Malaysia sekitar Rp 50 juta per bulan, belum termasuk fasilitas perumahan dan pendidikan gratis untuk anak mereka.

Kedua, Tantangan pengembangan ilmu. Banyak dari mereka yang butuh situasi kerja yang benar-benar membawa tantangan. Mereka ingin sekali agar ilmu yang mereka dapatkan benar-benar dapat didayagunakan secara optimal. Malaysia dan negara lain mampu menghadirkan hal tersebut, salah satu contohnya adalah Malaysia saat ini telah mengembangkan Pusat Biotech Valley di Petaling Jaya, Kuala Lumpur, semacam Silicon Valley di Amerika Serikat.

Indonesia juga terancam kehilangan generasi cerdas dan brilian, karena sebagian besar anak-anak cerdas peraih penghargaan olimpiade sains internasional memilih menerima tawaran belajar dari berbagai universitas di luar negeri, terutama Singapura.

Pemerintah hanya memberikan fasilitas masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes dan siswa bersangkutan dijanjikan akan diberikan beasiswa. Sementara Singapura lebih agresif dengan memburu siswa-siswa brilian ke sejumlah sekolah di Indonesia lewat agen yang tersebar di sejumlah kota, seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.


survival of capitalism

Wawancara & Analisis

Kenneth Rogoff
Mampukah Kapitalisme Modern Bertahan?
Dalam sejarahnya, segala bentuk kapitalisme sifatnya transisional.
Senin, 5 Desember 2011, 16:17 WIB
Bonardo Maulana Wahono
Description: http://media.vivanews.com/thumbs2/2011/09/26/124729_bursa-saham-di-moskow_300_225.jpeg
Bursa saham jadi salah satu anasir dalam kapitalisme modern (REUTERS/ Denis Sinyakov)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Saya kerap mendapat pertanyaan tentang apakah krisis keuangan  global menandai awal dari runtuhnya kapitalisme modern. Dalam pertanyaan  itu, ada anggapan bahwa sistem baru telah siap menggantikan kapitalisme.  Faktanya, setidaknya hingga hari ini, alternatif terkuat bagi paradigma  Anglo-Amerika mutakhir adalah kapitalisme dalam bentuk-bentuknya yang  lain. 
Kapitalisme yang dipraktikkan di Eropa daratan - gabungan antara jaminan  sosial dan kesehatan yang layak dengan jam kerja manusiawi, masa liburan  yang panjang, pensiun dini serta distribusi pendapatan yang setara,  sepertinya telah cukup - kecuali bahwa sistem itu tak berkelanjutan.  
Kapitalisme China yang cenderung Darwinian, dengan kompetisi sengit di  antara para eksportir, jaring pengaman sosial yang lemah, dan intervensi  pemerintah di segala bidang, digadang-gadang sebagai penerus kapitalisme  ala Barat. Alasan utamanya adalah China punya tingkat pertumbuhan yang  stabil serta wilayah geografis luas. Selain itu, sistem ekonomi di China  terus berkembang. 

Kamis, 08 Desember 2011

Meruntuhkan Hegemoni Kapitalisme




Posted on : 18-02-2011 | By : Agustianto | In : ArtikelIslamic Economics
Bookmark and Share
Oleh: Agustianto

Roy Davies dan Glyn Davies dalam buku “A History of Money from Ancient Time to the Present Day” (1996) menulis dan menyimpulkan,
bahwa sepanjang abad 20 telah terjadi lebih dari 20 kali krisis. Kesemuanya merupakan krisis sektor keuangan”. Beberapa dekade terakhir kekerapan krisis financial semakin tinggi
Mengamati krisis moneter dan ekonomi yang melanda itu, banyak pengamat yang menyatakan bahwa krisis tersebut, terutama disebabkan oleh keburukan sistem ekonomi kapitalisme saat ini yang secara hegemonis mengusai ekonomi dunia.
Karena krisis itu, keraguan dan kritik terhadap kapitalisme semakin gencar dilontarkan para ekonom kaliber dunia dan praktisi bisnis international. Suatu hal yang menarik, keraguan dan kritik itu justru muncul dari praktisi bisnis dan akademisi yang berada di pusat kapitalisme itu sendiri, yakni Amerika Serikat dan Eropa Barat.
George Soros, seorang raksasa investasi dunia (fund manajer) paling top saat ini, di depan Kongres AS, pada akhir Desember 1999, mengemukakan bahwa sistem kapitalisme global sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Peredaran modal yang sebebas-bebasnya, telah menyebabkan perekonomian suatu negara satu demi satu rusak dan kredit macet menjadi gejala global.

Benturan Kapitalisme Global terhadap Masyarakat Terbuka






Judul:Open Society: Reforming Global Capitalism 
Penulis: George Soros
Penerjemah: Sri Koesdiyantinah
Kata Pengantar: Dawam Rahardjo
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Cetakan: I, Mei 2006
Tebal: liii+408 halaman


Sejak terbit pertama kali dengan judul The Crisis of Global Capitalism: Open Society Endangered pada 1998 karya ini telah mendapat sambutan yang cukup fantastik dengan predikat International Best Seller, yang mungkin tidak diduga oleh penulisnya sendiri, George Soros. Sebagai spekulator pasar uang, Soros telah sangat diuntungkan oleh kapitalisme, bahkan oleh kelemahan kapitalisme itu sendiri yang tidak mampu menciptakan stabilitas moneter di tingkat dunia. Namun sistem yang membesarkannya itu dihujat habis-habisan dalam bukunya, sehingga menuai kontroversi dan mendapat kritik dari kalangan liberal- kapitalis sendiri.
Kini, edisi revisi dengan judul Open Society: Reforming Global Capitalism, Goerge Soros, yang disebutsebut sebagai dalang krisis keuangan dan ekonomi di Asia Tenggara, masih mempertahankan tesisnya yang menyatakan bahwa kapitalisme sebagai sebuah sistem global telah mengalami krisis yang amat parah karena munculnya apa yang disebut Karl Popper sebagai open society atau masyarakat terbuka. Berpijak pada teori Karl Popper, Soros mengatakan pula bahwa kapitalisme saat ini telah membahayakan masyarakat terbuka. Dan Soros pun mengkritik kapitalisme.
Kapitalisme sebagai sistem dunia yang bermula pada awal abad ke-16, ketika orang-orang Eropa berhamburan keluar dari sudut kecil dunia untuk menaklukkan, merampas dan berdagang, semakin menunjukkan kejayaannya terutama sejak runtuhnya tembok Berlin dan berakhirnya Perang Dingin. Hal itu ditengarai sebagai kemenangan bagi kapitalisme liberal dan runtuhnya komunisme. Pernyataan Marx yang mengatakan sosialisme dan komunisme akan menggantikan kapitalisme ternyata tidak terbukti. Dan sistem kapitalisme itu, menurut Francis Fukuyama, merupakan pamungkas sejarah (The End of History), yang berarti bahwa tak ada lagi sistem yang menggantikannya.
Namun, tesis Fukuyama ini agaknya ditolak oleh Soros, karena kapitalisme sekarang ini, menurut pengamatan Soros, ternyata juga sedang mengalami krisis walaupun sudah menjadi sistem global. Kapitalisme, dalam pandangan Soros, ternyata telah menimbulkan fragmentasi anarki produksi dan ketidakstabilan dalam perkembangan ekonomi. Ini ditandai dengan gulung tikarnya industri kecil yang ditelan oleh industri besar dan persaingan yang saling menghancurkan dalam produk dan pemasaran. Keberadaan ini pada masa-masa tertentu dapat menimbulkan persoalan sosial yang berat, bahkan juga perang, konflik dan krisis.
Selain itu, kapitalisme global telah menyebabkan negara-negara pusat berusaha menjadi penyerenta negara-negara pinggir —dalam istilah Soros disebut periphery—dengan mengendalikan pertumbuhan ekonomi mereka. Dalam hal ini, Soros menyatakan bahwa International Monetery Fund (IMF) dan World Bank merupakan dua organisasi keuangan internasional yang sengaja dibentuk oleh negara-negara pusat agar tetap bisa menguasai dan mengontrol negara-negara pinggir (negara berkembang dan terbelakang).
Berangkat dari ini, Soros menyarankan agar kapitalisme direformasi, sebab hal ini membahayakan masyarakat terbuka. Sistem kapitalisme saat ini menekankan persaingan dan mengukur keberhasilan dalam terminologi uang. Nilai uang telah menggeser peran nilai-nilai intrinsik dengan dominasi pasar di bidang-bidang kehidupan yang sebenarnya bukan tempatnya. Bidang hukum, politik, budaya, pendidikan, bahkan hal-hal yang bersifat pribadi dan privat, telah dikonversi ke dalam terminologi uang.
Menurut Soros, menerapkan ideologi pasar ke dalam wilayah- wilayah di luar bisnis dan ekonomi ternyata memiliki pengaruh sosial yang merusak dan menimbulkan degradasi moral. Bahkan, sekalipun mengesampingkan nilai moral dan etika yang lebih besar, ideologi fundamentalisme pasar (laissez faire) memiliki cacat besar yang pada akhirnya menciptakan kekacauan dan menyebabkan keruntuhan sistem kepitalisme global. Sistem inilah yang dituding Soros sebagai biang kerok dari krisis kapitalisme global. Memang, sistem kapitalisme global saat ini masih memiliki kekuatan, dan masyarakat yang diciptakannya adalah masyarakat terbuka yang terdistorsi, oleh karena itu sistem ini harus direformasi.
Dalam buku yang disebut Soros sebagai panduan filsafat praktis ini, ia mengungkapkan persepsi atau konsepsinya mengenai kapitalisme, yaitu kapitalisme yang kompatibel dengan masyarakat terbuka atau kapitalisme yang sejalan dengan demokrasi. Jadi bagi Soros, masyarakat terbuka yang diambilnya dari Popper itu adalah gagasan primer, sedangkan kapitalisme merupakan gagasan sekunder.
Bagi Soros, kapitalime (yang benar dan otentik) memang bisa menyumbang terhadap terbentuknya suatu masyarakat terbuka. Tapi gagasan utama Soros adalah bahwa diperlukan sebuah masyarakat terbuka untuk mencapai masyarakat kapitalis sejati. Sebab sistem masyarakat terbuka itu bersifat menggairahkan (stimulating), inovatif dan cenderung kepada kondisi yang lebih makmur. Sementara itu, kapitalisme saat ini, yang merupakan ideologi pasar radikal, telah melahirkan banyak sekali persoalan yang membahayakan masyarakat terbuka sebagaimana diidealkan Soros.
Memang, di satu sisi, kapitalisme yang berprinsip pada pasar sangat berhasil dalam menciptakan kekayaan, namun di sisi lain sistem itu tidak menjamin kebebasan, demokrasi, dan supremasi hukum. Padahal, untuk mewujudkan masyarakat terbuka dibutuhkan penjunjungan kebebasan dan hak asasi manusia, supremasi hukum, dan kesadaran tanggung jawab sosial serta keadilan sosial. Terdapat praduga umum bahwa demokrasi dan kapitalisme berjalan seiring. Sebenarnya, dalam pandangan Soros, hubungan keduanya amat rumit. Kapitalisme membutuhkan demokrasi sebagai peyeimbang karena sistem kapitalisme itu sendiri tidak menunjukkan kecenderungan ke arah ekuilibrium, yang menjadi landasan bagi fundamentalisme pasar. Dan hal ini justru menghasilkan masyarakat tertutup, yang tidak sesuai dengan tujuan kapitalisme global.
Jadi, kritik Soros terhadap kapitalisme global dapat dibagi menjadi dua. Pertama, berkaitan dengan mekanisme pasar, terutama mengenai instabilitas yang menggoncang pasar uang. Kedua, berkaitan dengan sektor non pasar, yaitu kegagalan politik dan erosi nilai-nilai moral baik pada tingkat nasional maupun internasional. Untuk yang kedua, Soros mengharapkan agar kapasitas negara dalam melaksanakan fungsifungsinya diwujudkan dengan demokratis, bukan pada pasar. Sebab, nilai-nilai pasar hanya mengekspresikan berapa yang mau dibayar oleh seorang partisipan kepada partisipan lain dalam pertukaran bebas dan tidak mengekspresikan kepentingan bersama mereka. Walhasil, nilai-nilai sosial hanya dapat diwujudkan melalui peraturan- peraturan sosial dan politik.
Selaku penganjur masyarakat terbuka, Soros dengan tegas memperjelas bahwa ia tidak menentang kapitalisme per se. Sebab sonsep-konsep masyarakat terbuka dan ekonomi pasar sangat erat kaitannya, dan kapitalisme global telah membawa ke arah lebih dekat dengan masyarakat terbuka global. Oleh karena itu, Soros menganjurkan agar mengoreksi kekurangan- kekurangan pada sistem kapitalisme demi mensejahterakan umat manusia (hlm.xivii).
Soros, yang selama ini dikenal dengan binatang ekonomi , ternyata juga memiliki sisi-sisi kemanusiaan dan pemikiran akan sebuah masyarakat terbuka, di mana nilai-nilai demokrasi bisa dilaksanakan sepenuhnya di dalamnya. Tobat Soros itulah yang menjadikan idenya penuh kontroversi di kalangan kapitalis lain. Dan itu yang membuat buku ini menarik.